Melawan Varian Baru Covid-19 dengan Peta Buta

Melawan Varian Baru Covid-19 dengan Peta Buta

PEMERINTAH sudah tahu gelombang ketiga Covid-19 tinggal menunggu waktu. Ada tiga varian baru yang menyerang berbagai negara. Yakni, varian Lambda, Mu, dan C.1.2. Ledakan kasus seperti yang pernah dilakukan varian Delta bisa terulang.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan peringatan itu dalam rapat dengan Komisi IX DPR kemarin (13/9). Tiga varian baru itu memiliki kemampuan menghindari imun manusia.

Varian Lambda dan Mu ditemukan di Amerika Selatan. Lambda sudah ditemukan di 42 negara, sedangkan Mu sudah merambah ke 49 negara. Sementara itu, varian C.1.2 yang sedang naik daun ditemukan di Afrika Selatan. ”Ilmuwan sangat khawatir terhadap varian ini karena bisa menghindari sistem kerja imunitas yang sudah terbentuk dari varian-varian sebelumnya,” kata Budi.

Untuk mendeteksi virus baru tersebut, sampel harus menjalani pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) atau sekuens genom. Budi bakal mempersiapkan jaringan lab WGS itu di berbagai daerah.

WGS terhadap Covid-19 dilakukan dengan menganalisis sampel swab. Pemeriksaan dilakukan dengan mencocokkan detail material genetik virus menggunakan polymerase chain reaction (PCR) atau primer bagian dari virus itu sendiri.

Staf Ahli Kemenkes dr Andani Eka Putra melihat keberadaan lab WGS sangat vital. Masalahnya, fasilitas tersebut masih terpusat di Jawa. ”Paling tidak di setiap pulau besar punya lab itu,” kata kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas (Unand), Padang, tersebut.

Jumlah lab WGS di Indonesia tidak sampai 20. Selain Balitbangkes Kemenkes, lab WGS terdapat di Lembaga Eijkman, Labkesda Jabar, LIPI, BPPT, UI, UGM, UNS, UIN Jakarta, Unpad, ITB, Unair, UPN Veteran Jakarta, dan Universitas Tanjungpura.

Yang tidak berada di Jawa hanya lab milik Universitas Tanjungpura di Pontianak. Andani melihat situasi itu tidak boleh dibiarkan. Indonesia tidak boleh menghadapi serangan gelombang ketiga dengan peta buta. ”Di Sumatra saja belum ada,” kata pria kelahiran Padang, 15 Agustus 1972, itu.

Dalam waktu tenang ini, ia berharap pemerintah daerah dan pusat sama-sama bekerja untuk memperbanyak lab WGS. Harga alatnya mencapai Rp 8 miliar. Namun, yang mahal adalah reagen yang dibutuhkan untuk pemeriksaan sampel. ”Satu sampel Rp 6 juta. Tidak murah memang, tapi harus punya,” jelas mantan direktur RS Unand itu. (Salman Muhiddin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: