Seri Brian De Palma (1): Bersahabat dengan Kontroversi dan Kegagalan

Seri Brian De Palma (1): Bersahabat dengan Kontroversi dan Kegagalan

Pada 1975, De Palma ditawari menyutradarai film berdasarkan novel klasik Stephen King, Carrie. Ini adalah momen breakthrough De Palma masuk ke arus studio besar Hollywood. Tapi bagi De Palma, justru ini merupakan kesempatan untuk mencoba teknik split screen yang kemudian menjadi trademark terkenal miliknya.

Carrie sukses besar. Tak hanya dari segi finansial, tetapi juga di ajang penghargaan. Ia masuk dua nominasi Oscar. Tepatnya untuk Aktris Terbaik (Sissy Spacek), dan Aktris Pendukung Terbaik (Piper Laurie). Dia melanjutkan kesuksesan tersebut dengan film horor The Fury (1978). Yang semakin menabalkan reputasi De Palma sebagai sineas thriller terbaik di masa itu.

De Palma kemudian putar balik ke genre awal karirnya, dark comedy. Tapi justru berakhir dengan sebuah komedi menyimpang yang tak terlalu lucu. Judulnya Home Movies (1979). Film yang—anehnya—berhasil menarik aktor watak sekelas Kirk Douglas.

Namun, rupanya itu hanya sedikit batu sandungan. Pamor De Palma naik dan semakin naik setelah membuat dua film thriller kriminal. Yakni Dressed to Kill (1980), yang dibintangi Michael Caine dan Angie Dickinson. Dan Blow Out (1981) yang dibintangi oleh John Travolta.

Kesuksesan besar berikutnya adalah film yang penuh dengan kekerasan dan kontroversi: Scarface (1983). Ditulis oleh Oliver Stone dan dibintangi oleh bintang The Godfather yang naik daun, Al Pacino. Scarface dicerca banyak kritikus, tapi sukses besar secara komersial. Setelah itu De Palma bermain-main lagi di komedi kriminal yang ringan dalam Wise Guys (1986). Lalu disusul thriller sensual berjudul Body Double (1984). Film itu membelah kritikus menjadi dua, yang membencinya dan menyanjungnya.

Kemudian, pada 1987, De Palma semakin menancapkan nama besarnya di Hollywood lewat sebuah film besar klasik: The Untouchables (1987). Dibintangi oleh teman lamanya, Robert De Niro, yang berperan menjadi gangster legendaris Al Capone.

Film ini sukses mengantar Sean Connery merebut Oscar pertamanya. Juga memberi Ennio Morricone nominasi untuk Lagu Tema Terbaik. Tapi, sekali lagi, Hollywood enggan memberikan trofi Sutradara Terbaik untuk De Palma. Dinominasikan saja tidak.

MENGARAHKAN bintang muda yang sedang bersinar, Tom Cruise, saat syuting Mission: Impossible pada 1995. 

Mission: Impossible

Beranjak ke dekade 90an, De Palma mau tak mau masuk ke genre perang yang sedang populer saat itu. Ia merilis film tentang perang Vietnam berjudul Casualties of War (1989). Dibintangi oleh Michael J. Fox dan Sean Penn. The Bonfire of the Vanities (1990) mengukuhkan De Palma sebagai sutradara yang mampu membuat hit wonder movie dan disaster movie dalam waktu singkat. Meski dibintangi sejumlah aktor terkenal seperti Tom hanks, Bruce Willis, Melanie Griffith, dan Morgan Freeman, film tersebut gagal secara komersial dan kritik.

Perjalanan karier ala roller coaster yang diraih De Palma sejauh ini tidak membuatnya putus asa. Mungkin ia menyadari. Seperti Carlito, kesuksesan tidak membuat semuanya menjadi lebih baik.  Kadang ia harus berhenti dan melakukan apa yang ia sangat inginkan. Meski tak semua orang menyukainya. Dan meski hal tersebut harus mengorbankan ketenaran dan kariernya, diganti menjadi kepuasan dan hal-hal yang dia cintai.

Pada 1996, De Palma berhasil membuat film box office superpopuler yang catchy dan jauh dari nuansa hore-hore. yaitu Mission: Impossible (1996). Dibintangi oleh Tom Cruise dan Jon Voight, film itu menjadi petunjuk besar bahwa De Palma mampu menjawab tantangan jaman. Ia juga menjawab tantangan film aksi-misteri di Snake Eyes (1998) yang lagi-lagi menjadi cult klasik yang dicintai kritikus tapi tak laku.

De Palma melanjutkan dengan film yang secara visual mencengangkan tetapi sama-sama tidak berhasil yaitu Mission to Mars (2000). Ia gagal lagi lewat film thriller kriminal Femme Fatale (2002), konspirasi pembunuhan The Black Dahlia (2006), dan film kontroversial Redacted (2007) yang membahas sebuah kisah berlatar belakang perang di Irak.

Dua film terakhirnya benar-benar menghancurkan reputasinya berkeping-keping. Yakni Passion (2012) dan Domino (2017). Keduanya hanya tayang beberapa hari di bioskop. Brian De Palma mungkin sedang berada pada titik rendahnya saat ini. Tetapi kita sama-sama tahu. Ia akan selalu kembali. (Retna Christa-*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: