Kasus Sambo Belok ke Kuat Ma’ruf

Kasus Sambo Belok ke Kuat Ma’ruf

-Ilustrasi: Reza Alfian Maulana-Harian Disway-

Problem sangat kuno peradaban manusia. Raja atau bos, karena sibuk, istrinya diselingkuhi pengawal raja atau anak buah. Terjadi sejak dulu sampai kini.

Dikutip dari Kamus Oxford University, berjudul Eunuch (Oxford, Clarendon Press. 1998) disebutkan, raja-raja jadul mengalami ini: Permaisuri atau selir-selir diselingkuhi pengawal. Maka, ditemukan cara: Eunuch.

Eunuch berasal dari bahasa Yunani kuno, berarti pria kasim. Pria yang dikebiri. Bentuk kebiri berbeda-beda di setiap negara. Di Yunani, testis pria diamputasi sehingga tidak mungkin ereksi. Di Tkongkok kuno, diamputasi testis dan penis. Sehingga rata seperti jidat.

Eunuch tidak mungkin selingkuh dengan permaisuri, selir, bahkan wanita siapa pun. Dengan begitu, raja pasti percaya kepada Eunuch. Merasa aman.

Disebutkan di kamus itu, Eunuch sudah ada sejak tahun 2000 sebelum Masehi. Atau 4.000 tahun silam.

Dipaparkan, di zaman Kekaisaran Ottoman (1300 Masehi) berpusat di   Bizantium, Konstantinopel, ada Harem Agasi. Di situlah ada beberapa orang kasim, penjaga harem, tempat selir raja. Itulah orang kasim yang tercatat sejarah.

Tapi, sejak ribuan tahun sebelumnya, sudah ada Eunuch. Fungsinya sebagai abdi dalem atau pembantu rumah tangga kerajaan. Tugasnya kemudian berkembang, tidak hanya pembantu rumah tangga. Tetapi, juga jadi mata-mata raja.

Tugas utamanya, membantu rumah tangga. Misalnya, merapikan tempat tidur penguasa, memandikannya, memotong rambutnya, bahkan menyampaikan pesan. 

Kasim umumnya tidak loyal kepada militer, aristokrasi, atau keluarga kasim sendiri (setidaknya tidak memiliki keturunan atau menantu, tapi punya saudara). Kasim hanya loyal kepada raja.

Dengan demikian, mereka dipandang lebih dapat dipercaya dan kurang tertarik untuk mendirikan dinasti pribadi. Dinasti berarti keturunan. Sebaliknya, kasim tidak mungkin berhubungan seks.

Karena kondisi mereka begitu, status sosial mereka rendah. Terutama di lingkungan kerajaan. Oleh kalangan kerajaan, mereka disebut juga ”orang baik”.

Peninggalan sejarah tentang kasim tampak di relief dinding batu kapur yang menggambarkan seorang pelayan kerajaan Asyur, seorang kasim. Dari Istana Pusat di Nimrud, Irak, pada 744–727 SM. Dan, relief itu kini tersimpan di Museum Timur Kuno, Istanbul, Turki.

Sangat banyak keuntungan pihak raja yang punya kasim. Selain jadi penjaga harem yang setia, juga mencegah jabatan turun-temurun, karena kasim tidak punya anak. Maka, memungkinkan penunjukan dilakukan berdasarkan prestasi. 

Orang kasim bekerja berdedikasi pada pekerjaan. Tidak terganggu kewajiban keluarga. Atau, tidak pulang pun tak masalah. Kasim tidak memenuhi syarat untuk takhta. Atau, tidak mungkin merebut kekuasaan raja.

Dari uraian tersebut disimpulkan, pria jadi ”ganas” jika punya gairah seks. Dengan potensi seks, pria jadi berbahaya. Baik sebagai pembantu raja. Bahkan, setelah lama jadi pembantu raja, pria berpotensi seks juga berpeluang merebut takhta kerajaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: