Bigger Than Us, Potret Anak-Anak Muda Pembuat Perubahan

 Bigger Than Us, Potret Anak-Anak Muda Pembuat Perubahan

MELATI WIJSEN berdiri di depan gunungan sampah di Bantar Gebang Jakarta. Dalam Bigger Than Us, dia berkeliling dunia untuk bertemu anak-anak muda pembuat perubahan. -cannes via imdb-

Surabaya, HARIAN DISWAY - Sudah banyak film dokumenter tentang lingkungan. Namun, sedikit sekali yang dibuat dengan format omnibus seperti Bigger Than Us. Masalah yang diangkat bukan hanya satu. Tapi banyak. Dari berbagai benua. Mulai dari sampah, pengungsi, hingga pendidikan dan politik. Film itu diputar perdana di Festival Film Cannes 2021 di Cannes, Prancis, Mei 2021 lalu.

Bigger Than Us disutradarai oleh sineas Prancis Flore Vasseur. Ditulis oleh Flore bersama seorang change-maker belia, Melati Wijsen. Melati adalah gadis 21 tahun berdarah Indonesia-Belanda. Pada usia 12 tahun, dia bersama sang adik, Isabel, menginisiasi gerakan Bye Bye Plastic Bag di Bali. Gerakan itu menggurita. Hingga akhirnya berujung pada pelarangan penggunaan kantong plastik di seluruh Pulau Dewata.

’’Saya mengenal Flore sudah lama. Dia pernah menggarap film dokumenter tentang Bye Bye Plastic Bag beberapa tahun lalu,’’ ungkap Melati, ketika ditemui setelah skrining Bigger Than Us di ballroom Double Tree By Hilton Surabaya, 19 Agustus 2022 lalu. ’’Ide-ide kami sering nyambung. Kami klik banget,’’ tambah dia.

Sebagai change-maker remaja—saat itu Melati baru berusia 18 tahun, dia yakin ada banyak anak muda yang seperti dirinya. Yang berusaha membuat perubahan untuk mengatasi masalah di sekitarnya, dan sudah membuahkan hasil nyata.

’’Saya bilang ke Flore, untuk membuat perubahan yang lebih besar, dan melibatkan banyak anak muda, inilah yang harus kita lakukan,’’ ungkap Melati, mengenang awal munculnya gagasan pembuatan Bigger Than Us.

’’Kami mendapatkan support dari aktris pemenang Oscar Marion Cotillard. Dialah yang membukakan jalan buat kami mengumpulkan dana untuk pembuatan film,’’ lanjut dia. Pendanaan film didapat dari crowdfunding serta sponsor. Cotillard (yang kita kenal lewat Inception, La Vie en Rose, dan The Dark Knight Rises) menjadi produser.   

Dari Lebanon ke AS


MOHAMMAD AL JOUNDE (kiri) memperlihatkan sekolah yang berhasil dibangunnya buat anak-anak pengungsi Syiria di Lebanon kepada Melati Wijsen. -cannes via imdb-

Pada 2019, perjalanan Melati keliling dunia dimulai. Sosok pertama yang dia temui adalah Mohammed Al Jounde, pemuda kelahiran Syria. Bersama ibunya yang aktivis, ia melarikan diri dari rezim otoriter Hamas sejak berumur 12 tahun. Seperti ribuan anak lain di negeri asing itu, ia tak boleh sekolah.

Pada usia 14 tahun, Mo memutuskan mendirikan sekolah. Memanfaatkan reruntuhan bangunan dan kayu-kayu bekas. Ia mengajar matematika dan fotografi. ’’Sekarang sekolahku menampung lebih dari 600 anak. Setelah menyelesaikan dua tahun pendidikan, mereka bisa melanjutkan ke sekolah formal,’’ jelas Mo.

Berikutnya, Melati terbang ke Malawi, Afrika. Menemui Memory Banda. Seorang gadis yang luar biasa tangguh. Dia memberantas pemerkosaan tersistem di negerinya. Dan berhasil mengubah regulasi tentang usia minimal perkawinan. Dari 15 tahun menjadi 18 tahun.

’’Di negeriku, kalau anak gadis sudah menstruasi, mereka harus masuk semacam kamp inisiasi. Yang mendoktrin bahwa mereka harus tunduk kepada lelaki. Dan bahwa peran mereka sebagai mesin pembuat anak sudah dimulai,’’ tutur Memory. Di inisiasi itu juga, mereka diperkenalkan pada hubungan seks. Ya, anak-anak perempuan yang baru puber itu diperkosa atas nama tradisi.

’’Aku memulai gerakan ini karena kakakku sendiri hamil saat berumur 11 tahun sepulang dari kamp itu. Dia terpaksa menikah,’’ kenang Memory pilu. Untuk memberantas inisiasi omong kosong itu, Memory bekerja dari bawah. Mulai dari tetua desa, pemerintah lokal, sampai pemerintah pusat.


GADIS TANGGUH Memory Banda (tengah) berbicara dikelilingi warga di salah satu desa di Malawi. Setelah regulasi berubah, tugas dia adalah memberi edukasi pada kaum perempuan. -cannes via imdb-

Change-maker berikutnya adalah Rene Martinez. Pada 2014, Rene menggunakan Twitter (lewat akun @vozdascomunidade) untuk menyuarakan situasi di kampungnya. Sebuah favela (kampung kumuh) di pinggiran Rio de Janeiro.

Akun Twitter itu adalah lanjutan dari Voz daz Comunidades, koran kecil yang dirintisnya sejak usia 11 tahun. Sebagai sarana untuk menyuarakan perjuangan penghuni favela yang menderita di bawah perang antargeng dan narkoba. ’’Aku percaya bahwa media adalah bentuk perlawanan dan kegigihan tanpa senjata,’’ tegas Rene, yang kini berumur 27 tahun.

Pergi ke Amerika Serikat, Melati menemui Xiuhtezcatl Martinez. Seorang aktivis iklim, penyanyi hiphop, dan pemimpin gerakan Earth Guardians. Ia dan kelompoknya mengajukan gugatan terhadap pemerintah AS yang dinilai gagal melindungi bumi untuk generasi mendatang. Lewat jalur hukum serta kampanye berbalut konser musik, ia berjuang membuat lingkungannya, Texas, lebih layak ditinggali.

Melati juga pergi ke Yunani. Tempat Mary Finn sehari-hari bekerja sebagai penyelamat pengungsi. Pantai Yunani hampir setiap hari menerima kapal berisi para pengungsi dari negara-negara Afrika maupun Timur Tengah. Membanjirnya pengungsi membuat Yunani mengalami krisis pangan hingga sampah.

Setelah berkeliling dunia, Melati pulang ke Indonesia. Tepatnya ke Jakarta Utara. Gunungan sampah di TPA Bantar Gebang membuat dia sedih. Dilemanya, 22 ribu orang menggantungkan kehidupan terhadap sampah setinggi bukit tersebut.

Masalah Anak Muda


MIRIS, Melati bersama Mary Finn (kiri) berbincang dengan keluarga pengungsi yang terdampar di tepi pantai Yunani pada 2019. Eropa mengalami krisis pengungsi yang berdampak pada lingkungan. -cannes via imdb-

Bigger Than Us memaparkan berbagai krisis dan tantangan yang dihadapi generasi muda. Tak hanya lewat visual. Tapi juga dengan data. Tentang jumlah pengungsi, keterbatasan lahan dan pangan, area-area yang terancam tenggelam pada 2050, hingga jumlah wartawan yang tewas setiap tahun.

Alih-alih stres dan overthinking oleh masalah-masalah dunia itu, Melati dan teman-teman aktivisnya menjadi secercah harapan. Mereka bekerja nyata membuat perubahan. ’’Aku enggak bisa menunggu. Kalau harus ada yang membuat perubahan, maka itu adalah anak-anak muda. Dan itu harus dimulai sekarang,’’ tegas Melati di awal film.

Bigger Than Us telah diputar di berbagai kota besar dunia. Prancis, Belanda, Belgia, Jerman, dan beberapa negara Asia. Bulan ini, ia mampir di Indonesia. Kota yang dikunjungi adalah Surabaya, Bandung, serta Jakarta.

Di Surabaya, pihak Double Tree mengundang siswa SMP, SMA, dan mahasiswa di sekitar hotel untuk menonton film. ’’Harapannya sih, Melati dan film ini bisa menularkan semangat membuat perubahan buat anak-anak muda di sini,’’ kata Maria Passa, marketing communication Double Tree by Hilton Surabaya. (*)
   

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: