WHO Ancang-Ancang Akhiri Pandemi Covid-19

WHO Ancang-Ancang Akhiri Pandemi Covid-19

Testing Covid-19 masih digelar di Chengdu, Tiongkok September lalu.-twitter@francescagraz1-

JENEWA, HARIAN DISWAY - World Health Organization (WHO) mengumumkan pandemi COVID-19 semakin menuju titik akhir. Direktur Jendral WHO, Tedros Adhanom Gebreyesus optimis akan hal tersebut.

“Titik terang mulai terlihat. Walaupun belum sampai di sana, akhir dari pandemi ini mulai memasuki fase akhir,” ungkap Tedros.

COVID-19 sendiri menewaskan hampir 6,5 juta orang dan sebanyak kurang lebih 606 juta orang telah terjangkit virus COVID-19. Setelah hampir 2 tahun berlalu, WHO mulai mengumumkan kabar baik itu.

Sejak September, WHO melaporkan angka kematian dan juga angka kasus baru penularan COVID-19 turun drastis. Terendah sejak bulan Maret 2020 tahun lalu.

Program Vaksinasi yang telah dilakukan turut merendahkan angka tersebut. Walaupun sudah menurun, WHO tetap mengimbau semua negara untuk tetap siaga.

Langkah antisipasi sedang dicari oleh negara di berbagai belahan dunia. Mereka sedang memperhitungkan bagaimana cara terbaik dalam mengawasi dan mengatasi penularan COVID-19 lebih lanjut.

Berbagai negara saat ini mengkampanyekan pemberian vaksin booster untuk para penduduknya. Seperti vaksin Bivalen, yang telah disetujui distribusinya oleh negara besar di Eropa. Nantinya, pemberian vaksin booster dapat membentuk perlindungan akan kemungkinan varian dari COVID-19 di masa depan.

WHO sendiri sebelumnya menetapkan pandemi COVID-19 sebagai status darurat dunia. Dengan jumlah kasus yang terus menurun, WHO akan terus melihat dan meninjau angka penyebaran tersebut. Bukan tidak mungkin status darurat dicabut dalam waktu dekat.

Juru bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril mengatakan akhir pandemi dipengaruhi capaian vaksin booster. "Jadi booster ini jangan dianggap, ah sudahlah kita sudah melandai, nggak usah lagi. Jangan, kita harus tetap (booster)," kata Syahril dalam siaran Radio Kesehatan Kemenkes RI.

Cakupan booster pertama atau dosis ketiga di Indonesia masih cukup rendah yaitu baru sekitar 23,13 persen. Angka ini masih dibawah standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). (Athallanda Kevin)



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: