Sejarah dan Tragedi Kanjuruhan; Antara Kerajaan Tertua dan Sepakbola

Sejarah dan Tragedi Kanjuruhan; Antara Kerajaan Tertua dan Sepakbola

Stadion GOR Kanjuruhan, tempat kejadian tragedi sepakbola yang menewaskan ratusan orang.--

Kanjuruhan viral setelah tragedi Sabtu malam, pada 1 Oktober 2022,di GOR Kanjuruhan, Kepanjen, Malang. Pasca-pertandingan antara Arema melawan Persebaya. Sejak itu nama Kanjuruhan identik dengan tragedi. Bukan sebagai sejarah silam Nusantara. 

Kejadian GOR Kanjuruhan adalah tragedi sepakbola terbesar kedua di dunia. Menewaskan lebih dari 100 orang. Baik masyarakat sipil maupun anggota kepolisian. Maka nama Kanjuruhan sebagai lokasi kejadian pun tak hanya menggema di seantero negeri. Tapi juga di seluruh dunia. 

Sebelumnya, nama Kanjuruhan hanya dikenal secara terbatas. Yakni berkaitan dengan, pertama, kerajaan tertua di Jawa Timur. Kedua, nama universitas swasta di Kota Malang yakni Universitas Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) dan ketiga, GOR Kanjuruhan. 

Kanjuruhan kurang familiar di telinga publik jika dikaitkan dengan sejarah kerajaan yang pernah berdiri di Malang. Lain halnya dengan pilihan kedua dan ketiga. Padahal dalam sejarah, Kanjuruhan adalah nama kerajaan besar yang berdiri antara awal abad VIII hingga abad IX Masehi. 
Candi Badut, salah satu peninggalan Kerajaan Kanjuruhan. --

Kanjuruhan sebagai nama kerajaan, pertama kali tercatat dalam prasasti bertarikh Saka 678 (760 Masehi). Tarikh prasasti tersebut digurat dalam angka dan diberi kalimat penanda sebutan tahun. Yakni Candrasangkala Lombo, Nayana (2) Vasu (8) Rasa (6). Jika ketiga kata itu diurutkan secara terbalik, menjadi "682 Saka.”

Prasasti batu atau lingga prasasti yang mencatat nama Kanjuruhan, terbilang sebagai prasasti panjang atau long inscription, lantaran hanya berisikan 26 baris tulisan. Prasasti yang telah menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional tersebut  dikenal dengan sebutan "Prasasti Dinoyo I.”

Pembacaan selanjutnya, tertulis bahwa Kanjuruhan pada masa itu merupakan kerajaan yang otonom. Terdapat tiga raja yang memerintah Kerajaan Kanjuruhan secara berturut-turut. Yaitu: Dewa Simha, Gajayana (Liswa), dan Utejjana, ratu yang menikah dengan Raja Pradaputra, juga ibu dari A-nana yang bijaksana. 

Raja Gajayana adalah raja Kanjuruhan yang paling populer. Ia merupakan putra Dewa Simha dan ayah dari puteri Utejjana. Raja Gajayana pula yang memerintahkan bawahannya, Citralekha untuk menulis prasasti. 

Tarikh mutlak dalam penulisan prasasti Kanjuruhan adalah 28 November 760 Masehi, yang hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Malang. Pada tahun 2022, Kota Malang memasuki usia 1262 tahun. 

Bagi wilayah provinsi Jawa Timur, jejak budaya Kanjuruhan bisa dibilang menjadi "momentum” untuk beberapa hal. Yakni sebagai kerajaan otonom tertua di Jawa Timur, keberadaannya hampir satu masa dengan kerajaan Mataram Hindu, hingga akhir abad IX. Meski pengaruh Mataram Hindu begitu besar, Kerajaan Kanjuruhan tetap menyandang status otonom atau negara merdeka. Bukan underbow atau vasal kerajaan Mataram. 

Fakta lain, candi-candi peninggalan Kerajaan Kanjuruhan. Seperti Candi Badut, Candi Gasek di Karangbesuki serta reruntuhan candi di Kelurahan Karangbesuki menjadi bukti terhadap keberadaan agama serta budaya Hindu-Saiwa tertua di Jawa Timur. 

Begitu pun Prasasti Kanjuruhan sebagai prasasti tertua di Jawa Timur, dan aksara yang digunakan dalam prasasti tersebut adalah aksara Jawa Kuna. Aksara tertua  kedua di Jawa Timur setelah prasasti Plumpungan yang berangka tahun 672 Saka (750 Masehi). 

Dengan demikian kerajaan otonom Kanjuruhan beserta peninggalan budayanya di area Malang menduduki posisi monumental. Namun keberadaannya kurang populer. Bahkan nyaris senyap. Tenggelam di balik nama-nama besar seperti Singhasari dan Majapahit, serta kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. 
Prasasti Dinoyo yang ditemukan di Kelurahan Dinoyo, Kota Malang, dan merupakan bukti adanya pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan yang terletak di lembah Kali Metro.--

Dalam buku babon berjudul Sejarah Nasional Indonesia jilid II, keberadaan Kanjuruhan hanya disinggung sekilas, dalam konteks pembicaraan mengenai kerajaan Mataram Hindu. Padahal sebenarnya, rentang sejarah Kanjuruhan menunjukkan indikasi bahwa eksistensinya tak sebatas pada tiga raja itu saja. Sangat mungkin keberadaan Kanjuruhan sebagai kerajaan otonom masih berlanjut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: