Pasuruan artikel

Di Mindful Festival oleh Young Buddhis Association, Bisa Ukur Kadar Bahagia dengan Muse Headband

Di Mindful Festival oleh Young Buddhis Association, Bisa Ukur Kadar Bahagia dengan Muse Headband

Saat masuk venue, pengunjung akan disuguhkan dengan tata venue yang harum dan banyak bunga. Tampak juga patung-patung Buddist.--

SURABAYA, HARIAn DISWAY - Dalam Mindful Festival yang digelar di Atrium Tunjungan Plaza 6, Surabaya, pada 13 Oktober 2022, Young Buddhis Association workshop Chinese Calligraphy. Dengannya pengunjung dapat mengetahui tingkat konsentrasi dan relaksasi dalam tubuh. Melalui perangkat digital muse headband.

Sebanyak 12 peserta workshop tampak serius mengikuti tahapan-tahapan dalam melukis kaligrafi Mandarin. Di meja kecil di hadapan masing-masing peserta, disediakan beberapa lembar kertas bergambar huruf Mandarin, kertas kosong bergaris, serta wadah kecil tempat tinta Chna.  

Meski tampaknya sederhana tapi praktiknya cukup susah. "Sekilas kalau dilihat, gampang. Ternyata uangel soro (sulit, Red). Kita harus tahu saat memberi penekanan pada kuas, saat mengangkat kuas dan ke arah mana kita membelokkan kuas itu," ujar Vera Gotama, salah satu peserta. Saat itu dia mengikuti workshop bersama adiknya, Ingrid Gotama. 

Langkah pertama, Nerissa memberi tahapan cara memegang kuas. Jari telunjuk dan jari tengah diletakkan di tangkai kuas sebelah kanan. Sedangkan ibu jari menahan di sebelah kiri. Begitulah cara memegang kuas yang digunakan untuk melukis kaligrafi Mandarin. "Banyak yang enggak tahu. Dikira seperti megang bolpoin. Tapi bukan seperti itu. Cara megangnya begini," ujar Nerissa Arviana, pemateri workshop kaligrafi Mandarin.
Suasana saat workshop Chinese Challigraphy dimulai di ajang Mindful Festival yang digelar di Atrium Tunjungan Plaza 6, Surabaya, pada 13 Oktober 2022.--

Berikutnya tentang cara menulis huruf dasar. Yakni huruf Heng. Bentuknya seperti garis dengan ujung kiri runcing seperti mata pisau, ujung kanan sedikit tumpul. "Letakkan ujung kuas di atas kertas. Tapi jangan ditekan. Sedikit diangkat ya," ujarnya. Kemudian kuas itu ditarik ke kanan sembari sedikit diangkat. Sehingga memberi kesan menipis di bagian tengah, menebal kembali di ujung kanan.

Panjang-pendeknya garis serta bentuk kedua ujung dalam huruf heng pun sangat berpengaruh. "Kalau terlalu pendek, maknanya sudah berbeda. Jadi heng pendek. Kalau heng pendek menggoresnya sama. Hanya tekanannya berlangsung dari tengah ke ujung kanan," ungkap perempuan 31 tahun itu.

Mengetahui para peserta workshop  kesulitan, Nerissa menyarankan mereka untuk menebali huruf Mandarin yang telah disiapkan dalam kertas. Di situ terdapat huruf heng, shu, heng gou, pie, na, dian, wan gou dan sebagainya. Huruf-huruf dasar yang samar, yang memang disiapkan untuk diberi penebalan.

Menulis bentuk dian, misalnya, dian jika diterjemahkan adalah "titik". Namun terdapat tiga bentuk titik dalam aksara Mandarin. Dian pertama berbentuk gemuk, pendek dengan sudut kiri meruncing ke atas. Dian kedua berbentuk seperti helai daun dengan dua ujung runcing serta bagian tengah yang melengkung di kedua sisi. 

Sedangkan dian ketiga berbentuk hampir seperti trapesium. Ujung bawahnya melengkung ke kanan. Dua ujung di atas seperti mata panah yang mengarah ke bawah. Dua ujungnya meruncing ke atas. "Kalau belajar kaligrafi Mandarin di Tiongkok, satu garis heng saja bisa memakan waktu dua kali pertemuan. Kalau hari ini, saya beri workshop singkat saja. Supaya anda semua tahu jenis-jenis goresan beserta teknik dasarnya," ujar.

Setelah cukup lancar menulis huruf-huruf dasar, peserta diajak merangkai huruf-huruf tersebut menjadi aksara kalimat. Yakni zhengnian, yang jika diterjemahkan berarti mindfulness atau kekuatan konsentrasi pikiran. Terdiri dari rangkaian huruf-huruf dasar seperti pie, heng, na dan sebagainya.

Cara menggoreskan kuas pun tak bisa sembarangan. "Tidak boleh, misalnya, digores dari atas dulu. Harus dari huruf shu awal di kiri, kemudian heng panjang. Baru dirangkai ke atas," ungkap Nerissa pernah memelajari seni kaligrafi Mandarin di Tiongkok. Tepatnya ketika dia berkunjung ke Negeri Tirai Bambu pada 2014-2015.
Salah seorang pengajar Young Buddhis Association yang langsung turun tangan mengajarkan penulisan huruf Chinese dengan benar.--

Selain workshop yang berlangsung sekitar satu jam, disediakan pula sarana untuk menguji sejauh mana tingkat konsentrasi, kebahagiaan dan pola gelombang energi pada pikiran manusia. Alat pengujinya dinamakan muse headband. Yakni sebuah perangkat digital berbentuk seperti bando, dengan bentuk-bentuk persegi berwarna emas di bagian dalam.

Alat tersebut disebut juga sebagai electroencephalography (EEG). Yakni alat untuk mengukur sinyal otak yang dilengkapi 7 sensor terkalibrasi. Antara lain 2 di dahi, 2 di belakang telinga, dan 3 sensor referensi. Alat tersebut diletakkan di kepala pengunjung. Kemudian layar smartphone di depan memunculkan animasi berbentuk kubus yang timbul-tenggelam.

"Persegi ini adalah scanning awal. Jika tingkat konsentrasi seseorang kuat, pikirannya tidak kacau dan cenderung bahagia, maka bentuk perseginya mengecil. Jika banyak pikiran, perseginya membesar-mengecil tidak teratur," ungkap Wahyu Sentosa, salah seoranh panitia dari Young Buddhis, yang mengujikan alat tersebut pada pengunjung.

Sumber: