Pasuruan artikel

Kunjungan 31 Jurnalis Lintas Benua di Taiwan: Jalan Menuju Nol Emisi Karbon (3)

 Kunjungan 31 Jurnalis Lintas Benua di Taiwan: Jalan Menuju Nol Emisi Karbon (3)

Delegasi media diajak ke pembangkit listrik tenaga angin di Kabupaten Miaoli, Taiwan. -Salman Muhiddin/Harian Disway-

Taiwan menggebu-gebu mencapai net zero emission (netralitas karbon) pada 2050. Mereka ingin membuktikan bahwa dari negara dengan luas yang relatif kecil, mereka mampu membuat perubahan bagi dunia.


--

ADA kesamaan antara Taiwan dan Indonesia. Warganya masih bergantung pada kendaraan bermotor dengan bahan bakar fosil. Itu bisa kami lihat saat perjalanan menuju liputan pertama di kantor Kementerian Lingkungan Hidup di Jalan Zhonghua, Distrik Zhongzheng, Taipei.

Lokasinya tak terlalu jauh dari The Howard Hotel, tempat para jurnalis dari berbagai benua menginap. Kami naik tiga bus. Isinya 10-11 jurnalis dan satu pemandu dari Minister of Foreign Affair (MOFA) Taiwan.

Di kanan kiri jalan banyak skuter matik yang terparkir. Bentuknya banyak yang jadul. Beberapa lainnya keluaran terbaru.


BIKE SHARING milik YouBike Taiwan diluncurkan sejak 2009 dan membantu mobilitas warga.-Salman Muhiddin/Harian Disway-

Namun, jumlahnya tak kalah banyak dengan sepeda YouBike yang juga diparkir di jalur pedestrian. Perusahaan Bike Sharing itu sudah beroperasi sejak 2009. ”Sangat mudah. Sangat murah,” kata Victor Yang, salah seorang pendamping dari MOFA.

Di Surabaya pernah ada layanan bike sharing itu. Migo namanya. Namun, belakangan jumlah sepedanya makin berkurang. Saya pernah melihat anak-anak di Surabaya pakai sepeda itu. Berbagai bagiannya sudah dipereteli. Mungkin sepeda itu dicuri.

Victor agak kaget ketika saya bercerita begitu. Katanya, layanan YouBike di negaranya aman-aman saja. Bahkan, aplikasinya sampai dibikin dua versi. Versi pertama untuk sepeda berwarna kuning. Sedangkan versi kedua untuk sepeda oranye. Layanan tak hanya berada di Taipei. Tapi, makin merambah ke kawasan selatan.

Tak lama kemudian, kami sampai di kantor Kementerian Lingkungan Hidup itu. Gedungnya sederhana, di pinggir jalan dan tanpa pagar. Tak semegah kantor kementerian di Indonesia.

Inilah liputan pertama kami. Yang menemui langsung pejabat tinggi: Menteri Lingkungan Hidup Taiwan Tzi-Chin Chang. Ia didampingi seorang translator perempuan yang cara ngomong Inggris-nya ciamik sekali.

Kami diterima di meja yang ditata berbentuk huruf U. Terdapat flash disk berisi materi presentasi yang sedang dibacakan sang menteri. Sayang, tak semua delegasi membawa laptop. Kami pun harus menontonya di layar yang tertempel di tiga sudut dinding.

Ia mulai bicara soal transisi energi global menuju net zero yang telah dimulai. Pendekatan inovatif untuk kerja sama internasional yang ditekankan oleh Perjanjian Paris juga telah berkembang secara bertahap.

Indonesia ikut menyetujui perjanjian itu pada 23 April 2016. Namun, banyak yang menyatakan bahwa perjanjian tersebut hanya retorika. Nyatanya, negara-negara masih bergantung pada minyak bumi dan batu bara.


KUNJUNGAN PERTAMA delegasi 31 jurnalis lintas benua ditemui langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup Taiwan Tzi-Chin Chang, 14 November 2022.-Salman Muhiddin/Harian Disway-

Dalam satu kesempatan, jurnalis senior asal Belanda Eric Vrijsen mengatakan bahwa upaya Taiwan bakal percuma jika negara lain tidak ikut merealisasikan perjanjian Paris itu. Ia mencontohkan, di Tiongkok penggunaan batu bara masih tinggi. Kalau anginnya sedang ke timur, Taiwan bakal kena emisinya.

Jurnalis lain dari Afrika Selatan, Azzahra, menyanggah. Katanyi, Tiongkok sudah berbuat banyak untuk perubahan iklim. Erick tidak membantahnya. Jadi, perdebatan antarwartawan itu tidak berlanjut.

Menteri Lingkungan Hidup Taiwan Tzi-Chin Chang mengatakan bahwa isu perubahan iklim harus dihadapi semua masyarakat dunia. Karena itu, Taiwan menyerukan kerja sama yang luas ke berbagai negara.

Per Mei 2022, kapasitas terpasang kumulatif energi terbarukan Taiwan mencapai 12,3 GW. Meningkat 1,6 kali lipat bila dibandingkan dengan 2016. Dari tahun 2005 hingga 2020, produk domestik bruto (PDB) Taiwan meningkat 79 persen dan intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) berkurang 45 persen. 

Angka itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pengurangan emisi GRK.

Pada Hari Bumi tanggal 22 April 2021, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengumumkan tujuan untuk mencapai emisi karbon nol bersih pada 2050. Dalam setahun, Menteri Tzi-Chin Chang menyelesaikan strategi untuk mencapainya. ”Kami menamainya Pathway to Net-Zero Emission (Jalan Menuju Nol Emisi Karbon) Taiwan 2050,” ujar Tzi-Chin Chang.

Susunan strategi itu dituntaskan Maret 2022. Sekarang Taiwan mempromosikan strategi transisi di empat bidang: energi, industri, gaya hidup, dan masyarakat.

Strategi itu punya 12 prioritas: energi angin dan matahari; energi hidrogen; energi inovatif; sistem tenaga dan penyimpanan energi; penghematan dan efisiensi energi; penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon; kendaraan bebas karbon dan listrik; daur ulang sumber daya dan nol limbah; penyerap karbon; gaya hidup hijau; keuangan hijau; dan transisi berkeadilan.

Kami sempat diajak ke pembangkit listrik tenaga angin di pantai barat Taiwan. Kincir angin dipasang di lautan dan menghadap ke arah Tiongkok. Angin dari sana berembus lebih kencang.

Butuh investasi besar untuk mengembangkan pembangkit ramah lingkungan itu. Namun, Taiwan memiliki kendala politik. Mainland China mengeklaim bahwa Taiwan masih bagian dari Tiongkok. Mereka dikeluarkan dari banyak organisasi internasional karena prasangka politik. 

”Sulit bagi Taiwan untuk mengetahui dan segera terlibat dalam aksi iklim terkini,” lanjut Tzi-Chin Chang. Karena itulah, Taiwan sangat berharap bisa terhubung lebih banyak negara untuk ikut ambil bagian pada Perjanjian Paris. 

”Mempromosikan transisi net-zero adalah tanggung jawab kolektif,” kata Tzi-Chin Chang. Menurutnya, target nol emisi itu hanya dapat diwujudkan dengan bekerja sama dalam komunitas internasional. Dengan semangat pragmatis dan profesional, Taiwan bersedia memberikan kontribusi nyatanya.

Tak bisa dimungkiri bahwa perubahan iklim itu bergantung pada teknologi. Dan, Taiwan rantai terbesar dalam perdagangan semikonduktor atau chip dunia. Bahkan, Tiongkok menggantungkan 90 persen kebutuhan chip-nya kepada Taiwan. (Salman Muhiddin)

Tak Mau Pakai Energi Nuklir. BACA BESOK!

 

Sumber: