Natal dan Agama Sains

Natal dan Agama Sains

-Ilustrasi: Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PERAYAAN Natal telah berlangsung dengan aman dan lancar. Selamat untuk umat kristiani di Indonesia. Yang bisa bergembira ria di hari raya keagamaannya.

Kemeriahan ada di mana-mana. Sejumlah daerah menghiasi kotanya dengan lampu-lampu dengan suasana natalan. Setidaknya itu terlihat di Kota Solo dan Surabaya. 

Menyenangkan.

Salut untuk Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Keduanya telah berani memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang pemimpin daerah membangun keberagamaan dan keberagaman.

Di saat sejumlah kepala daerah tak berdaya dengan sebagian kelompok masyarakat yang ingin memaksakan kehendak. Termasuk dalam cara beragama. Sampai dengan mengatur bagaimana penganut agama lain harus menjalankan keyakinannya. 

Memang, bagi bangsa dengan beragam, agama sudah seharusnya demikian. Memberikan ruang kepada semua agama dan keyakinan untuk mengekspresikan diri. Untuk menjalankan keyakinannya tanpa tekanan. 

Selama ini, kebanyakan hanya pusat perbelanjaan yang melakukan demikian. Menghias tempat belanjanya dengan atribut Natal. Seperti ketika mereka menghias dengan atribut Idulfitri saat Lebaran. Untuk menarik pasar dari umat yang sedang bersukaria.

Apakah atribut Natal bisa merusak iman umat non-kristiani? Tentu tidak. Masak atribut saja bisa menggoyahkan iman seseorang? Begitu lemahnya iman mereka jika itu terjadi. Itu hanya kekhawatiran yang berlebihan.

Memang ada perdebatan tentang boleh dan tidaknya umat Islam mengucapkan selamat Natal. Ada yang mengharamkan. Bahkan, ada yang berlebihan. Dengan unjuk rasa melarang memasang atribut Natal di tempat publik.

Namun, Natal tahun ini makin sepi perdebatan itu. Meski masih muncul di beberapa daerah. Mayoritas umat Islam makin melihat sebagai hal biasa. Menjadikan kemeriahan Natal sebagai bagian dari keragaman bangsa.

Sebagian umat Islam melihat perayaan Natal bukan sebagai persoalan keyakinan. Juga, bukan sebagai ekspresi toleransi. Tapi, penghormatan atas keyakinan orang lain. Ini bukan soal keimanan. Tapi, soal kehidupan bermasyarakat.

Rasanya sudah saatnya membedakan antara toleransi dan menghormati. Toleransi itu berarti menenggang rasa. Memberikan ruang akan perbedaan. Dalam segala hal. Termasuk soal keyakinan beragama.

Sementara itu, menghormati lebih pada level kehidupan sosial. Lebih berarti membangun sopan santun bermasyarakat. Konteksnya sosiologis. Agama diletakkan sebagai sebuah realitas sosiologis. Terkait perilaku sosial. 

Menghormati lebih merupakan sebuah nilai bagaimana seharusnya relasi antarkelompok masyarakat terjadi. Menghormati bahwa ada umat manusia yang punya keyakinan lain dalam beragama. Menghormati demi menciptakan harmoni dalam kehidupan sosial.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: