Hidup Sehat Cegah Leptospirosis

Hidup Sehat Cegah Leptospirosis

GUBERNUR Jatim Khofifah Indar Parawangsa mengingatkan agar warga waspada wabah leptospirosis yang sudah meminta sembilan korban.-Humas Pemprov Jatim-

SURABAYA, HARIAN DISWAY- Sembilan orang meninggal di Jatim diduga karena leptospirosis. Penyakit itu tersebar melalui air seni hewan yang terinfeksi bakteri. Umumnya, penularan bakteri itu melalui air, tanah, atau makanan.

Beberapa hewan tercatat paling banyak menularkan bakteri tersebut. Yakni, babi, anjing, sapi, dan tikus. Namun, persebaran kasus yang terjadi di Jawa Timur kali ini berasal dari kencing tikus. Angka kematian terjadi di dua daerah. Enam orang meninggal di Pacitan dan tiga korban lainnya berasal dari Kota dan Kabupaten Probolinggo.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Erwin Astha Triyono, kasus leptospirosis umumnya terjadi di daerah yang kumuh. Sebab, daerah itu merupakan tempat terbaik berkembang biaknya tikus.

”Leptospirosis ini merupakan endemik di dalam tubuh tikus. Khususnya di wilayah ginjal dan saluran kencingnya. Sehingga wajar bahwa tikus itu memiliki peran penting dalam proses penularannya,” ujar Erwin saat ditemui di Gedung Negara Grahadi, Senin, 6 Maret 2023.

Dinkes Jatim pun telah memberikan surat edaran. Isinya, semua kabupaten dan kota diminta untuk mengantisipasi penyakit tersebut. ”Setiap tahun pasti selalu ada kasus. Walau angkanya relatif selalu sama,” bebernya.

Itu juga, menurut Erwin, butuh kontribusi masyarakat. Yakni, menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat. ”Walau kita selalu sosialisasikan itu, masyarakat tidak tertarik untuk menerapkannya. Itu akan susah juga,” tambahnya.

Menurutnya, semua usia berpotensi terpapar virus tersebut. Hanya, potensi terbesar masyarakat yang terpapar penyakit itu adalah tenaga kerja pengangkut sampah dan petani. ”Itu punya kontribusi untuk tertular leptospirosis,” ucapnya.

Sekitar 90 persen masyarakat yang tertular leptospirosis mengalami gejala ringan. Sisanya mengalami gejala berat. Karena itu, pengobatan untuk pasien yang terjangkit kuman tersebut terbilang sederhana. Cukup dengan diberi antibiotik: Amoxicillin, Ampicillin, dan Doxycycline. 

”Untuk yang 10 persennya, kita sudah mendorong rumah sakit untuk menyiapkan antibiotik dari kelompok antibiotik sefalosporin dan seftriakson,” ungkapnya.

Ia juga meminta agar setiap dokter di rumah sakit untuk harus mencurigai pasien yang memiliki keluhan gangguan kencing dan gangguan napas. Dengan demikian, leptospirosis dapat terdeteksi lebih dini.

”Kalau terdeteksi lebih dulu, diharapkan penanganan penyakit itu bisa lebih baik. Harapan kami, jangan sampai ada masyarakat yang sakit. Atau, kalau sudah sakit, jangan sampai bergejala berat atau bahkan meninggal,” tegasnya.

Kasus leptospirosis di Jatim selalu terjadi setiap tahun. Biasanya, kasus itu muncul saat musim hujan. ”Karena kebanyakan ya ditularkan melalui air yang terkontaminasi bakteri itu. Tapi, kasusnya setiap tahun pasti ada,” ucapnya.

Hingga 5 Maret 2023, ada 249 kasus leptospirosis yang terjadi. Paling banyak di Kabupaten Pacitan: 204 kasus dengan enam meninggal dunia. 

Sementara itu, Gubernur Jatim  Khofifah Indar Parawansa minta masyarakat yang merasakan gejala segera memeriksakan diri. Gejala tersebut, antara lain, demam, nyeri kepala, nyeri otot, malaise (lelah), serta mata tampak merah atau kekuning-kuningan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: