Belajar Media dari Abah Dahlan Iskan

Belajar Media dari Abah Dahlan Iskan

Penulis dan Founder Harian Disway Dahlan Iskan di Disway News House.-Yulian Ibra-

Ekspedisi Jejak Naga, proyek perdana yang saya kerjakan dimana tugas saya mengolah bahan video mentah hingga layak tonton melalui Instagram. Isinya tentang kehidupan Pecinan Pantura dan juga keragaman arsitektur, makanan, pakaian, kultur, dan bahasa. 

Selain Youtube Harian Disway, aku juga terlibat untuk merencanakan segmen konten apa saja yang akan diproduksi tiap minggunya. Hingga kami sepakat untuk membuat dua segmen yang dikelola Bersama Social Media Specialist: segmen Perspektif Insider dan Kultur. 

Perspektif Insider salah satu segmen yang dimiliki Youtube Harian Disway dimana akan berisi konten yang akan membincangkan suatu topik atau isu yang sudah ditentukan dengan tujuan untuk mencari tahu perspektif orang-orang di dalamnya sehingga diharapkan konten yang dibuat menjadi informatif dan edukatif. 

Konten video yang ramai ditonton khalayak dengan tema freelancer.  Sedangkan, Kultur adalah segmen mendalam tentang budaya, gaya hidup, dan segala sesuatu di antaranya serta mengeksplorasi budaya, dan kami terlibat dengan masyarakat. yang kemudian diterbitkan atau publish di internet dan diharapkan dapat memberikan informasi yang mendalam dan terpercaya kepada penonton.

Selama magang, saya jadi teringat penjelasannya Marshall McLuhan. Menurut ilmuwan asal Kanada itu, komunikasi antar manusia tak lagi dibatasi letak geografis, dan orang-orang dapat bertukar informasi tanpa terkendala jarak.

Bila komunikasi secara personal polanya face to face, dan dalam komunikasi massa menjadi one to many, maka dalam komunikasi melalui media internet akan berubah menjadi many to many. Maka, konsep konvergensi media di Disway berjalan sesuai zaman.

Menjadi seorang videographer sekaligus editor video harus  peka terhadap yang ada disekitar. Dengan kata lain harus sabar dan berkepala dingin. Menahan diri untuk tidak mengedepankan ego yang tinggi untuk berkomunikasi dengan lawan bicara. 

Untungnya suasana ruang kerja di Disway News House yang tidak terlalu besar itu sangat mendukung. Namun suasananya begitu nyaman. Ruang redaksi punya banyak komputer dengan spek tinggi yang menunjang kinerja. Sangat mendukung sekali untuk editing video. Dinding selatannya full kaca. Sehingga kami yang berjam-jam mengedit video tidak terasa seperti dipenjara.


PC yang tersedia di Harian Disway menyokong pekerjaan tim medsos.-Alvin Goldianno/Harian Disway-

Dari magang di Disway, kami merasakan bagaimana pekerja media berpacu dengan deadline. Komunikasi antara redaksi, tim sosmed, dan tim event juga sangat intens. Terkadang, otak dipaksa berpikir kreatif tak mengenal waktu. Dalam tekanan, kemampuan manusia ternyata bisa keluar melebihi limit yang disadari.

Begitu banyak ilmu yang didapat peserta DIP III. Selain teknis karya jurnalistik, kami juga banyak mengambil pelajaran tentang kehidupan kewartawanan. Bagaimana mereka membangun jaringan, mengelola tekanan di dalam dan luar kantor, ancaman dari pihak yang ditulis, hingga berbagai kisah lucu selama jadi wartawan.


Proses pengambilan video untuk YouTube Harian Disway.-Alvin Goldianno/Harian Disway-

Tak terasa masa magang terlampaui, dimulainya pada 24 Januari dan berakhir 24 April. Menjelang hari pamitan, Abah Dahlan mampir ke Disway News House. Saya menyaksikan bagaimana tokoh jurnalis dengan nama besar itu sangat membumi. Ia mendiskusikan keberlanjutan dan inovasi Harian Disway dengan anak buahnya: Yulian Ibra dan Salman Muhiddin. Mereka prajurit muda Disway. Ibra generasi berusia 20 tahunan awal. Sedangkan Mas Salman generasi 30 tahun.

Hubungan antara pemilik perusahan dan anak buah begitu egaliter. Mereka juga tak sungkan mengobrol dengan bos besarnya. Abah begitu memperhatikan detail pekerjaan bawahannya. Sehingga mereka yang ada di naungan Harian Disway mampu bekerja begitu tekun. (Alvin Goldianno)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: