Dalam Pameran Lukisan-Drawing “Pertamaku” Pelukis Clik Prisha Pamungkas Ciptakan Simbol-simbol Personal

Dalam Pameran Lukisan-Drawing “Pertamaku” Pelukis Clik Prisha Pamungkas Ciptakan Simbol-simbol Personal

Prisha Pamungkas yang tengah menggelar karya-karyanya dalam pameran tunggal lukisan-drawing berjudul Pertamaku, di Icon Mall, Gresik, sampai 30 Juni 2023. -Arik SW-

GRESIK, HARIAN DISWAY - Anak-anak adalah seniman yang paling murni. Bahkan Pablo Picasso seorang maestro pelukis dunia meyakini bahwa semua anak adalah seniman. Masalahnya adalah bagaimana tetap menjadi seorang seniman setelah ia besar nanti. 
 
Prisha Pamungkas yang masih berusia 6 tahun bahkan lebih jauh membuat pernyataan ini semakin relevan dengan 20 karyanya yang dipajang dalam pameran tunggal lukisan-drawing berjudul Pertamaku yang digelar di Galeri Sanggar Daun, di lantai 2 Icon Mall, Gresik, sampai 30 Juni 2023.

Tapi tunggu dulu! Ini bukan tentang karya anak-anak seperti pada umumnya yang mungkin bisa dipandang sebelah mata oleh para orang dewasa. Minimal dalam hal media yang digunakan Prisha untuk melukis. Juga ukuran karya-karyanya yang sebagian bahkan lebih dari 1x1 meter.
 
Karya-karya Prisha jelas bukan sekadar corat-coret biasa. Karena karya-karyanya merupakan ungkapan jiwanya. Upaya artistik dalam merekam segala apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Semua itu diekspresikan dalam karya-karya lukisan yang bercerita tentang segala yang paling dekat dengan kehidupannya.
Prisha Pamungkas didampingi kurator dan pendiri Sanggar Daun Arik S Wartono. -Arik SW-

 
Tentang apakah karya-karya Prisha ini bisa dinikmati oleh orang banyak, itu persoalan lain. Karena dalam menikmati karya seni memang sangat relatif. Tergantung siapa orang yang memandang dan tentu saja berdasarkan pada pemahamannya sendiri tentang makna keindahan. 
 
Secara alami setiap orang selalu berusaha membahasakan apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya agar dapat diketahui orang lain. Salah satu caranya melalui seni. Prisha telah melakukan semua itu dengan luar biasa dalam bahasa gambar dan lukisan. Melalui garis, warna, bidang, tekstur dan bahkan mungkin ia mencipta simbol-simbol yang sangat personal.
 
Objek-objek ikonik seperti matahari, rumah, hati, kucing dan figur-figur anak perempuan yang merepresentasikan dirinya sendiri serta temannya. Semua itu disampaikan secara lugu sekaligus spontan dalam sapuan kuas (brush stroke) dan aneka eksperimen teknik melukis yang cukup mengejutkan bagi anak seusianya.

Di antara itu ada tiga pameran tunggal. Jadi, selain Prisha, sejak Sabtu, 13 Mei 2023, juga digelar pameran tunggal karya anak-anak Sanggar Daun yang lain yakni Anas Sangaji yang berusia 14 tahun, bertajuk ASA: Art for Hope. Juga Shafi R, berusia 15 tahun, dengan tajuk Surabaya Lan Wayangku.

Pameran menampilkan total 45 karya lukisan dan gambar media kanvas dalam berbagai ukuran dari yang terkecil 20x20 cm hingga yang terbesar 200x200 cm. Masing-masing pameran tunggal mengusung konsep yang berbeda. Digelar dengan sistem pembagian ruang galeri untuk tiga karya seniman yang bisa dinikmati oleh umum pada pukul 10.00-21.00 WIB. (Oleh Arik S Wartono: kurator, pendiri, dan pembina Sanggar Daun)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: