Pungli Rutan KPK Terungkap dari Selingkuh

Pungli Rutan KPK Terungkap dari Selingkuh

Ilustrasi pungli Rp 4 miliar di KPK. --

Pelaku merasa, bukan ia yang bertanggung jawab, melainkan orang lain bertanggung jawab atas tindakan pelaku yang korup. 

2) Denial of injury. Pelaku meremehkan atau mengecilkan tindakannya sendiri. Tidak mengakuinya sebagai tindakan tidak bermoral.

3) Denial of victims. Penolakan korban. Pelaku percaya bahwa korban layak atas kejahatan yang dilakukan pelaku terhadap korban. Misalnya, karena latar belakang etnis atau orientasi seksual.

4) Appeal to higher loyalties. Kecaman para penghukum. Pelaku menuduh polisi, atasan, atau kontrol negara lainnya korup, cacat, egois, dan tidak adil. Pelaku: ”Kalau mereka bisa, mengapa saya tidak?”

5) Condemnation of condemners. Banding ke loyalitas yang lebih tinggi. Pelaku mengeklaim telah bertindak untuk kepentingan orang lain atau atas dasar perintah atau tekanan teman sebaya, tetapi tidak sesuai dengan keinginannya sendiri. Intinya, mencari kambing hitam.

Pelaku M setidaknya cocok dengan teori nomor 1 (denial of responsibility) dan tiga (denial of victims). 

Terbukti dari pengakuan M, bahwa ia sedang bermasalah dengan istri. Ia merasa jadi korban keadaan rumah tangga. Maka, membenarkan tindakannya berselingkuh dengan Bunga. Denial of responsibility.

M juga memandang rendah Bunga, istri tersangka korupsi yang suaminyi ditahan KPK. Maka, dianggap layak diperlakukan jahat. Denial of victims.

Penjaga Penjara Pelican Bay, Crescent City, California, AS, Barry Evert dalam bukunya yang berjudul Scars and Bars (2006) menjelaskan, korupsi atau tindak pidana oleh penjaga dan karyawan penjara tak terlepas dari narapidana atau penjenguk narapidana. Bisa keluarga atau teman napi.

Maksudnya, kesalahan penjaga penjara tidak berdiri sendiri. Melainkan, terkait atau diprovokasi napi atau penjenguk napi. Bahkan, penjaga penjara bisa dimanipulasi napi atau penjenguk napi. Agar korupsi. 

Misalnya, penjenguk menyuap penjaga untuk menyelundupkan HP, untuk diberikan kepada napi. Bahkan, bisa menyelundupkan narkoba.

Barry Evert penjaga penjara Pelican Bay sejak 1996. Itu penjara paling bermasalah di AS. Napi di dalamnya terkenal brutal. Banyak penjahat pembunuhan dan perampokan.

Evert dalam bukunya menyarankan, sebaiknya korupsi dipadamkan sebelum terjadi. Kuncinya ada di perekrutan pegawai penjara. Karyawan atau penjaga yang baru masuk kerja. Mereka harus dididik secara benar.

Penjaga baru harus diberi pelajaran bahwa napi dan penjenguk napi sangat suka memanipulasi penjaga penjara. Dengan berbagai teknik. Guna dimanfaatkan napi untuk kepentingan napi. Sekaligus penjaganya korupsi, terima suap. 

Evert dalam bukunya menyebutkan bahwa korupsi ibarat api. Dari percikan, lalu membesar, akhirnya berkobar. Maka, manajemen penjara harus meniadakan percikan. Jangan sampai ada percikan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: