Mahasiswa Enam Negara Ikut KKN UK Petra di Mojokerto

Mahasiswa Enam Negara Ikut KKN UK Petra di Mojokerto

Ibuki Kobayashi (kanan), Mona Tominaga (tengah), dan Anastasia Febi Dora (kanan) sedang kompak memplester semen tempat wudlu di surau Dusun Kesimen, Desa Rejosari, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.-Muhamad Nur Khotib-

Ditambah, desa tersebut juga dikelilingi bukit-bukit yang tinggi. Sementara, Tokyo begitu gemerlapnya penuh gedung-gedung pencakar langit. Perbedaan alam inilah yang membuat Ibuki merasa amat terasing.

"Pertama tiba di sini agak takut," ujar Ibuki dalam Bahasa Inggris lantas agak nyengir. Tetapi, semua rasa asing itu hanya berjalan tak sampai sepekan. Dia bisa merasa nyaman lantaran sambutan warga setempat yang ramah.

Terutama kalangan anak-anak. Yang selalu riang dan tertarik berinteraksi. Di sisi lain, Ibuki dan Mona pun juga terlibat mengajar anak-anak di sekolah dasar setempat tiap pagi.

"Mereka semua menyambut kami seperti orang yang sudah kenal lama," lanjut Ibuki. Tradisi ini, imbuhnya, tentu amat berbeda dengan negara asalnya. Di Jepang, mereka hanya berbincang dengan anggota keluarga.

Itupun bila ada keperluan saja. Ibuki kaget melihat kebiasaan warga Desa Rejosari. Antartetangga selalu menyempatkan berbincang setiap kali bertemu. "Ini yang bikin kami enjoy," sambung perempuan berambut sebahu itu.

Kedekatan emosional dirasakan juga oleh Rohat Karasu. Mahasiswa kedokteran gigi Inholland ini langsung merasa nyaman sejak hari pertama. "Karena saya juga seorang muslim. Begitu saya ucap salam, mereka kaget tapi juga senang," katanya dalam Bahasa Inggris.

Rohat sudah amat familiar tinggal di desa semacam ini. Sebelumnya, ia kerap tinggal di desa yang mayoritas penduduknya muslim. Seperti di Mesir maupun Turkiye.

Orangtuanya sendiri juga berasal dari desa terpencil di Turkiye. Jadi, tak banyak hal yang mengejutkannya. "Mungkin cuma geografisnya. Desa-desa di Belanda banyak ruang terbuka, sedangkan di sini sangat crowded," jelasnya.

Sebetulnya, yang lebih banyak mengalami gegar budaya justru mahasiswa asal Indonesia. Salah satunya, ialami Anastasia Febi Dora. Dia mahasiswi dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, NTT.

KKN COP 2023 UK Petra ini mengharuskan semua peserta tinggal di rumah warga. Setidaknya satu rumah maksimal untuk tiga mahasiswa. Dan harus ada mahasiswa asal Indonesia di tiap rumah.

"Saya kebetulan satu rumah dengan mahasiswa Korea," jelas mahasiswi semester 6 jurusan Ekonomi Pembangunan itu. Suatu malam, dia dan ibu pengasuh di rumah kebingungan. Sebab, seorang kawan Korea itu tiba-tiba pulang kelewat malam. 

Febi pun lantas memberitahu aturan sebagaimana lazimnya. Bahwa setiap penghuni rumah yang hendak keluar harus pamit. Ternyata si kawan tadi salah paham.

"Dia menganggap saya melarangnya keluar," kata Febi lantas tertawa. Ternyata, ada adat yang berbeda. Bagi orang-orang Korea, pergi dari rumah itu hal yang amat privasi. Tak seorang pun berhak tahu termasuk orang tua.

Begitulah sekelumit cerita mahasiswa peserta COP 2023 UK Petra. Program yang berlangsung rutin tahunan sejak 25 tahun silam ini telah melibatkan banyak mahasiswa asing. Selain merenovasi surau, mereka juga memaving jalan penghubung antardusun.

Tentu itu akan menjadi pengalaman luar biasa. Kenang-kenangan yang selamanya tak akan terlupakan begitu pulang ke rumah masing-masing. "Tinggal tiga hari lagi mereka di sini. Biasanya, saat berakhir nanti pasti tangis-tangisan," kata Kepala Pengembangan Pengabdian Masyarakat UK Petra Lintu Tulistyantoro lantas tertawa. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: