Dahsyat, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Selalu di Atas 5 Persen Selama 7 Kuartal

Dahsyat, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Selalu di Atas 5 Persen Selama 7 Kuartal

Grafis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia-Annisa Salsabila-Harian Disway-

JAKARTA, HARIAN DISWAY - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun ini mencapai 5,17 persen. Ini angka pertumbuhan yang tertinggi keempat dalam 4,5 tahun terakhir. Yang menggembirakan, angka pertumbuhan ekonomi nasional selalu tembus 5 persen dalam tujuh kuartal.

Setidaknya, terhitung sejak kuartal IV 2021. Kala itu  Indonesia mencanangkan pemulihan ekonomi. Hasilnya, diawali dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,01 persen di akhir tahun. 

Hingga Juni 2023 berhasil mempertahankan di angka 5 persen. Tentu ini capaian yang bagus. Apalagi terjadi di tengah ancaman krisis global yang serius. Mulai dari dampak pandemi Covid-19 hingga perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung berhenti.

Bahkan, capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia kali ini menyalip dua negara maju. Pertama,  Amerika Serikat yang hanya tumbuh 2,4 persen. Kedua, Jepang yang tumbuh 1,3 persen. 

Sementara yang tertinggi terjadi di Tiongkok dan India. Kedua negara itu sama-sama melejit dibandingkan negara-negara lain. Yakni masing-masing 6,3 persen dan 6,2 persen.

BACA JUGA:Harkopnas ke-76, Gubernur Khofifah Bangga Koperasi dan UMKM Jatim Berkontribusi 58,36 Persen pada Pertumbuhan Ekonomi

BACA JUGA:Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sesuai Proyeksi

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Badan Pusat Statistik Moh Edy Mahmud mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih konsisten pada kuartal II. Ini berkat ditopang oleh konsumsi masyarakat atau rumah tangga yang tumbuh 5,23 persen. “Sebaliknya, ekspor dan impor kita anjlok,” katanya saat konferensi pers virtual, Senin, 7 Agustus 2023.

Selain itu, konsumsi untuk kesehatan dan pendidikan juga tumbuh 5,51 persen. Tercatat sebagai yang tertinggi dalam 12 kuartal terakhir. Yakni sejak kuartal I 2021.

Penjualan pakaian, alas kaki, jasa, serta hotel dan restoran memang laku keras. Sebab, pada kuartal II, tepatnya April-Juni terdapat dua momen Lebaran: Idulfitri dan Iduladha. Pemerintah bahkan sempat memberi dua kali cuti bersama.

Maka, wajar bila aktivitas ekonomi masyarakat naik drastis. Menurut Edy, tahun ini memang beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hari raya dan cuti serempak jatuh pada Juni.

Pada periode yang sama, acara-acara ekonomi yang berbasis masyarakat juga banyak digelar di sejumlah daerah. Mulai dari konser maupun event belanja seperti Jakarta Fair. 

Intensitasnya cukup tinggi selama Mei dan Juni. Frekuensi dan nilai belanja masyarakat yang sempat anjlok pun mulai naik. Belum lagi ditambah libur sekolah selama dua pekan,

“Selain konsumsi rumah tangga, ada beberapa komponen lain yang tumbuh beriringan,” ungkap Edy. Di antaranya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 4,63 persen, konsumsi pemerintah tumbuh 10,62 persen, dan konsumsi lembaga non-profit tumbuh 8,62 persen. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: