Chairil Anwar di Balik Lukisan Affandi "Boeng, Ajo Boeng": Poster yang Membakar Semangat Perjuangan

Chairil Anwar di Balik Lukisan Affandi

Lukisan Boeng , Ajo Boeng karya Affandi.-DGI-

JAKARTA, HARIAN DISWAY - Seniman ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya adalah pelukis Affandi, berduet dengan penyair Chairil Anwar.

Affandi membuat karya poster monumental dan Chairil memberinya judul: Boeng, Ajo Boeng. (Bung, Ayo Bung). Poster tersebut memuat figur lelaki yang sedang berteriak.

Rantai yang mengikat kedua tangannya berhasil dihancurkan. Tangan kanannya memegang kayu yang terikat bendera merah putih, menjuntai dan berkibar di belakang.

Sesuai amanat Soekarno, Presiden pertama RI bahwa revolusi tidak hanya berpangku pada kekuatan. Tak hanya bedil, meriam dan pertarungan fisik.

Revolusi membutuhkan sentuhan seni, untuk menggelorakan semangat rakyat.

BACA JUGA:Pameran Seni Rupa Masjid: Gerakan Membeli Lukisan untuk Disumbangkan ke Masjid

 

BACA JUGA:Mengenal The Tapestry Weavers, Lukisan Diego Velázquez yang Melegenda

"Aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni. Kalau tidak demikian, bagaimana bisa aku disebut sebagai Pemimpin Besar Revolusi," ujar Bung Karno, seperti tertulis dalam buku biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Usai Proklamasi dikumandangkan, rakyat, termasuk para seniman ikut ambil bagian. Mereka membuat mural dan berbagai poster propaganda perjuangan, bertuliskan: Merdeka atau Mati.

Kalimat yang diambil dari pidato monumental Bung Karno, pada 1 Juni 1945, bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila.

Karya seni rakyat itu menuai dukungan. Affandi pun diberi amanat oleh Bung Karno untuk membuat poster tentang perjuangan. Ia melukisnya hingga selesai. Sosok pelukis Dullah menjadi modelnya.


Potret pelukis senior Affandi yang punya karya fenomenal: Boeng Ajo Boeng.-Dok Pribadi-

Namun, poster itu masih belum berjudul.

Dari berbagai sumber, dikisahkan bahwa saat itu para pelukis berkumpul bersama Affandi. Mendiskusikan judul poster itu. Termasuk S. Sudjojono. Lalu tiba-tiba datang penyair Chairil Anwar. Sudjojono bertanya padanya soal judul yang cocok.

Chairil mengamati sejenak, lalu menjawab santai, "Boeng, Ajo Boeng". Mereka setuju.

Poster itu diperbanyak dan dibagi-bagikan pada masyarakat. Sebagian besar ditempelkan di berbagai dinding. Untuk menggelorakan semangat perjuangan.

Saat itu ungkapan Boeng, Ajo Boeng menjadi -istilah zaman kini: viral. Sebuah ungkapan heroik yang memicu perjuangan rakyat di berbagai daerah. Melawan invasi Inggris dan sekutunya.

Karena begitu populer, para seniman masa itu mencoba bertanya pada Chairil, terkait judul poster tersebut.

Ia dengan santai menyebut bahwa kalimat Boeng, Ajo Boeng didapatnya dari para pelacur di kawasan Senen, Jakarta.

Para pelacur pada masa itu kerap menggoda pria yang datang dengan sapaan genit Bung ayo, bung.

Apalagi, saat itu Senen juga menjadi tempat berkumpul para seniman dari berbagai disiplin seni. Termasuk Chairil yang penyair.

Lepas dari apa pun itu, poster Affandi dan judulnya yang diberikan oleh Chairil, mampu menggelorakan semangat rakyat Indonesia.

Tak hanya pejuang. Seniman juga turut andil dalam mengantar Indonesia menuju gerbang kebebasan.

Pun, secara tidak langsung, para pelacur Senen juga berperan. Jika tidak ada mereka, tak bakal ada ungkapan Boeng Ajo Boeng. (Guruh Dimas Nugraha).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: