Refleksi 82 Tahun Peringatan De Slag in de Java Zee: Gaungkan Perdamaian dari Ereveld

Refleksi 82 Tahun Peringatan De Slag in de Java Zee: Gaungkan Perdamaian dari Ereveld

Sejumlah peziarah datang dari Belanda ke Surabaya khusus untuk menghadiri upacara. Mereka memandainya dengan meletakkan krans atau karangan bunga di monumen. Sebagian disematkan oleh para undangan khusus dalam upacara. -Moch Sahirol Layeli-

HARIAN DISWAY - Suasana haru kembali menyelimuti Monumen Karel Doorman di dalam kompleks Taman Kehormatan (Ereveld) Kembang Kuning, Surabaya.

Setiap kali memori tentang peristiwa De Slag in de Java Zee atau Pertempuran di Laut Jawa pada Perang Dunia II itu dibangkitkan. Terutama dirasakan oleh para keluarga korban dalam peristiwa yang terjadi pada 27 Februari 1942 itu.

Dari generasi ke generasi, ingatan itu memang selalu dikekalkan. Karena itu, Direktur Oorlogsgravenstichting (OGS) atau Yayasan Taman Kehormatan Belanda Eveline de Vink dengan bangga menyelenggarapan upacara peringatan di Ereveld Kembang Kuning mulai pukul 9 pagi.

Semua untuk mengenang 915 tentara AL Belanda yang gugur dalam pertempuran yang dipimpin Laksamana Muda Karel Doorman.

Peringatan ke- 82 yang berlangsung di bawah tenda berwarna merah-putih-biru itu cukup spesial tahun ini. Sejumlah peziarah yang tak lain keluarga para korban, datang dari Belanda ke Surabaya khusus untuk menghadiri upacara.

Mereka memandainya dengan meletakkan krans atau karangan bunga di monument yang sebagian disematkan oleh para undangan khusus.
Peringatan Pertempuran di Laut Jawa pada Rabu, 27 Februari 2024, di Ereveld Kembang Kuning makin spesial karena diikuti peziarah generasi keempat. Seperti keluarga ini yang di antaranya adalah cicit dari salah seorang korban dalam peristiwa bersejarah itu-Moch Sahirol Layeli-HARIAN DISWAY

Keharuan itu terasa sejak lonceng Hr. Ms. de Java berdentang beberapa kali. Terdengar sangat sakral. Ada perwakilan dari Belanda Willy Bontius menyanyikan lagu Nobis Pacem.

Lagu tentang perdamaian itu diikuti para undangan yang hadir. Tampak Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya Jonathan Alan, Konsul Jenderal Australia di Surabaya Fiona Hoggart, dan Konsul Kehormatan Inggris di Surabaya Ivy Kamadjaja. 

Setelah prosesi selesai, semua digiring menuju area ereveld. Panas matahari Surabaya tak menghalangi para peziarah untuk menengok keberadaan anggota keluarganya yang gugur.

Mereka mengenang perjuangan mereka lagi. Beberapa meletakkan bunga di sana. Saat begitu, rasa haru makin tak terhindarkan. Membiru.

Dalam sambutannya, Eveline de Vink menyatakan bahwa peringatan hari itu makin spesial karena para peziarah telah mencapai generasi yang keempat sejak para korban yang gugur.

“Mereka adalah generasi yang berbeda budaya, perspektif, dan latar belakang. Karena itu saya sampaikan terima kasih atas kesempatannya untuk menyelenggarakan peringatan ini,” katanya.
Dengan haru, seorang peziarah ini mengenang perjuangan anggota keluarga mereka yang gugur dalam pertempuran. Beberapa meletakkan bunga di sana. Saat begitu, rasa haru makin tak terhindarkan. -M Sahirol Layeli-HARIAN DISWAY

Hingga kini, perjuangan para korban masih dikekalkan oleh para anggota keluarga yang masih tetap tak ingin melupakan peristiwa itu.

“Lewat peringatan ini, kita tidak hanya bisa mengingat masa lalu, tetapi juga berpikir tentang masa depan. Refleksi diri atas apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah perang di masa anak-cucu kita nanti,” Eveline.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: