Yang Tak Pernah Hilang Resmi Diluncurkan, Keluarga Bimo dan Herman Ungkapkan Rindu

Yang Tak Pernah Hilang Resmi Diluncurkan, Keluarga Bimo dan Herman Ungkapkan Rindu

Adegan dalam film Yang Tak Pernah Hilang ketika Dionysius Utomo Raharjo mengenang Petrus Bima Anugerah yang hilang dalam peristiwa 1998. -M Azizi Yofiansyah-HARIAN DISWAY

HARIAN DISWAY - Reformasi 1998 masih menyisakan pilu. Terutama bagi keluarga Petrus Bima Anugerah dan Herman Hendrawan. Yang diculik dan hilang. Merindui keduanya, Komunitas Kawan Herman-Bimo memutar film dokumenter. Yang Tak Pernah Hilang. 

Beberapa bulan lagi usia Dionysius Utomo Raharjo menginjak 80 tahun. Rambutnya memutih. Namun, tubuhnya masih tegap. Tatapan matanya pun masih tajam. Meski sering tampak sayu. Sudah 26 tahun berlalu. Selama itu ia menunggu kabar yang tak pernah datang dari putranya, Bimo, panggilan Petrus. 

Utomo hadir dalam pemutaran film yang disutradarai Anton Subandrio atas gagasan almarhum Hari Nugroho. Dalam grand launching Yang Tak Pernah Hilang di Auditorium Untag Surabaya, pada Selasa, 5 Maret 2024, beberapa kali Utomo tampak mengusap baju hitamnya. Baju bergambar siluet Bunda Maria.

BACA JUGA: Film Yang (Tak Pernah) Hilang Kembalikan Ingatan tentang Dua Aktivis Unair yang Diculik pada 1998

“Mungkin di sana Bimo sudah bersama mamanya dan Bunda Maria. Di Kerajaan Surga. Ya, upaya mencarinyajadi sesuatu yang mustahil,” ujarnya. Lalu ia menengadah sejenak. “Tidak. Tak ada sesuatu yang mustahil bagi Tuhan. Saya hanya berpasrah pada-Nya,” katanya.

Selama mencari Bimo, segala upaya telah dilakukan. Termasuk rutin mengikuti acara Kamisan untuk mengenang Bimo, Herman, serta para aktivis pro-Reformasi 1998 yang diculik dan hilang tanpa jejak. Tapi, tak ada hasil. 

Gambaran perasaan Utomo terungkap dalam salah satu adegan. Di dapur rumahnya ia membuat kopi. Lalu duduk dengan tatapan kosong. Berlatar lagu Caping Gunung yang dipopulerkan Waldjinah.

Tepatnya pada bagian reffrain: Dek jaman berjuang/njur kelingan anak lanang/mbiyen tak openi/ning saiki ono ngendi. Lirik yang bermakna tentang orang tua yang mencari anak lelakinya yang hilang. Tepatnya saat zaman perjuangan. 

Selain Utomo, ada Hera Haslinda, kakak kandung Herman. Kawan Bimo yang masuk dalam 13 nama aktivis yang raib. “Saya datang dari Pangkalpinang untuk grand launching film ini. Namanya adik laki-laki kesayangan. Tentu kangen. Tapi ia sudah berjuang demi bangsanya,” ujarnya.
Kerabat Herman Hendrawan. Yakni kakaknya Hera Haslinda dan putrinya. Mereka datang dalam grand launching film Yang Tak Pernah Hilang. -M Azizi Yofiansyah-

Hera datang bersama putrinya. Dia membawa kantung plastik kecil. Dari situ, dia mengambil tiga lembar foto ukuran 3R. Ada Herman saat masih berkumpul bersama keluarganya. “Ini waktu Lebaran. Tahunnya saya lupa. Sebelum 1996. Herman adik bungsu kami berenam. Saya nomor dua. Herman waktu muda ganteng lho,” ujarnya sembari menunjukkan foto adiknya tersebut.

Dalam foto itu, Herman mengenakan batik dengan dalaman kemeja putih. Bersanding dengan kakak laki-lakinya. Tersemat kacamata lebar berbentuk klasik. Kacamata yang sama saat ia menjadi aktivis hingga diculik dan hilang.

Melihat kisah adiknya dibuatkan dokumenternya, Hera menghela napas. Dia mengapresiasi film Yang Tak Pernah Hilang. “Film yang sangat bagus. Untuk pelajaran bagi generasi muda. Mereka harus mengenal sejarah. Bahwa ada kejadian yang tak bisa diabaikan,” ungkapnya. 

Hera menegaskan bahwa perjuangan Herman berdampak besar bagi perjalanan bangsa. Pun, para aktivis 98 lainnya. “Pemerintah sebaiknya bertanggung jawab. Penghilangan paksa itu tidak baik. Untuk kembalinya Herman, saya rasa kecil kemungkinannya. Saya hanya bisa berharap hal lainnya,” ungkapnya.
Foto Herman Hendrawan pada pertengahan dekade '90an. Ketika itu ia mengunjungi kerabat-kerabatnya di Pangkalpinang. -M Azizi Yofiansyah-

Jika Herman telah meninggal, maka sebaiknya pemerintah menunjukkan di mana makamnya. Atau bentuk-bentuk pertanggungjawaban lainnya kepada keluarga yang ditinggalkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: