Etos Kerja Orang Jerman

Etos Kerja Orang Jerman

ILUSTRASI etos kerja orang Jerman.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Dari cerita Syaifudin, tampak bahwa para mahasiswa UNJ peserta ferienjob awalnya kaget (dan mengeluh) menjalani budaya kerja orang Jerman yang dianggap ”keras”. Berarti, budaya kerja orang Indonesia mereka anggap jauh lebih ”lunak” daripada orang Jerman. 

Mungkin, itu sebab sekarang Jerman jauh lebih maju daripada Indonesia. Padahal, usai Perang Dunia II, tahun 1944, Jerman kalah perang. Hancur lebur. Kelaparan parah pada hampir semua rakyat Jerman. Dengan etos kerja begitu, mereka bangkit dan Jerman jadi negara makmur.

Tapi, soal besaran honor, mahasiswa peserta ferienjob paling kritis. Mereka protes keras honor dipotong pihak perusahaan penyelenggara yang mengurus mereka di sana. Jadi, mereka kerjanya ”lunak”, kalau soal honor mereka bersikap ”keras”.

Tapi, seperti diceritakan Syaifudin, setelah kembali ke Indonesia, para mahasiswa itu baru mengakui bahwa mereka mendapat pelajaran budaya kerja Jerman yang tangguh. Mereka pun senang.

Kisah para mahasiswa ferienjob UNJ itu tidak diceritakan detail oleh Syaifudin. Ada yang lebih detail. Dikisahkan mahasiswi Universitas Jambi. Bernama Ririn Armayah Saputri, Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Universitas Jambi (Unja).

Dikutip dari web resmi Unja, disebutkan, Unja mengirim 86 mahasiswa dan mahasiswi ke Jerman. Mereka magang ”Ferienjob Program in Germany”. Pada 2 Oktober sampai 30 Desember 2023. Mahasiswi Ririn menceritakan, begini:

”Persiapan yang pertama, saya pribadi itu paling utama adalah kesehatan dan fisik. Selanjutnya melengkapi syarat yang diperlukan untuk ke Jerman dan magang seperti paling penting adalah visa dan paspor. Menyiapkan pakaian untuk winter karena akan memasuki musim dingin, obat-obatan, dan tidak lupa kami membawa makanan dari Indonesia seperti mi instan, bumbu khas Indonesia.”

Begitu tiba di Jerman, Ririn mengatakan:

”Saya kagum saat pertama kali sampai dan bersyukur sekali bisa sampai dengan selamat. Setelah sampai, kami langsung diarahkan untuk menuju ke apartemen yang jaraknya menghabiskan waktu selama satu hari satu malam. Setelah empat hari di apartemen pertama, kami berpindah ke kota lainnya. Setelah itu, mengunjungi tempat magang untuk menandatangani kontrak dan hari berikutnya langsung masuk magang.”

Ririn dan kawan-kawan bekerja di Company Norgemiur. Perusahaan distributor buah berry. Produknya dijual di minimarket setempat. Mereka magang di bagian logistik.

Ririn cerita, orang Jerman sangat menghargai waktu. Sangat disiplin. Jadwal masuk, istirahat, dan pulang kerja selalu tepat waktu. Saat bekerja, dilarang keras bicara dengan teman kerja. Pekerja dilarang keras mengurusi (membantu) pekerjaan teman kerja. Jika ada yang sakit dan dianggap sakit ringan, dilarang libur kerja.

Ririn mengaku senang dengan budaya itu. Yang kata Ririn, tidak pernah ada di Indonesia. Maka, dia laksanakan semua tugas dengan maksimal meski dia mengaku sangat kelelahan. Jam kerja 10 jam per hari. Waktu tempuh perjalanan dari apartemen ke tempat kerja sejam. Jadi, total dia menghabiskan 12 jam per hari.

Keluhan Ririn, suhu udara. ”Di Jambi sekitar 30 derajat Celsius, di Jerman di bawah titik beku, sampai minus 15 derajat Celsius,” ujar Ririn.

Juga, soal makanan. Di Jambi dia biasa makan nasi, di sana harus makan roti dan kentang. Selingannya cokelat. Juga, soal bahasa. Mayoritas warga Jerman, terutama di perdesaan tempat tinggal Ririn, cuma bisa berbahasa Jerman. Tidak bisa bahasa Inggris. Karena itu, jika berkomunikasi dengan warga sana, para mahasiswa Indonesia sibuk menerjemahkan lewat aplikasi di HP.

Ternyata, dengan kedisiplinan waktu kerja di Jerman, ada waktu libur Sabtu dan Minggu. Itu dimanfaatkan Ririn untuk aneka hal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: