5 Tokoh yang Memperjuangkan Hak-hak Buruh Indonesia, dari Marsinah hingga Widji Thukul

5 Tokoh yang Memperjuangkan Hak-hak Buruh Indonesia, dari Marsinah hingga Widji Thukul

Ini 5 tokoh nasional yang memperjuangkan hak-hak buruh. --Harian Disway

HARIAN DISWAY - Hari Buruh Internasional atau May Day diperingati setiap 1 Mei. Meski di era Orde Baru peringatan Hari Buruh sempat dilarang, Indonesia juga turut memperingati hari tersebut.

Sejak 2013, Hari Buruh di Indonesia dijadikan hari libur nasional. Tujuannya, salah satunya, adalah memberikan hak buruh untuk tidak bekerja pada hari spesial tersebut. Sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk menyuarakan aspirasi. Menyampaikan tuntutan-tuntutan kepada pemerintah.

Cukup banyak tokoh yang menyuarakan hak-hak kaum buruh di Indonesia. Mereka berjuang dengan caranya masing-masing. Ada yang berstatus sebagai aktivis, penulis, hingga birokrat.

BACA JUGA:Hari Buruh dan Tantangan Produktivitas Tenaga Kerja RI

Keberadaan mereka begitu penting dalam peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup buruh. Inilah 5 tokoh yang aktif memerjuangkan hak-hak buruh di Indonesia.

1. Marsinah


Ini 5 tokoh nasional yang memperjuangkan hak-hak buru, Marsinah. --Wikipedia

Marsinah adalah pahlawan buruh yang dikenal karena keberaniannya memperjuangkan hak kaum buruh dan melawan penindasan. Dia lahir di Nganjuk, 10 April 1969.

Kehidupan Marsinah terikat erat dengan dunia buruh. Ia bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik pembuatan jam di Porong, Sidoarjo. Namun, Marsinah tidak hanya terpaku pada rutinitas pekerjaannya.

Dia juga aktif dalam menyuarakan hak-hak kaum buruh yang sering kali diabaikan. Dengan berani, dia turun ke jalan. Dan mengajak rekan-rekannya untuk bersatu dan menuntut hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan.

Marsinah kali terakhir melakukan demonstrasi pada Mei 1993. Dia mendesak perusahaan tempatnya bekerja, PT CPS, menaikkan upah buruh sesuai edaran Gubernur Jawa Timur nomor 50 tahun 1992. Marsinah sempat mewakili kelompok buruh untuk berunding dengan perusahaan.

BACA JUGA:Hari Buruh 1 Mei 2024, 20 Ribu Buruh Jatim Bakal Tagih Janji Politik Khofifah

Sayangnya, perjuangan Marsinah untuk keadilan berakhir tragis. Pada 8 Mei 1993, sehari setelah demo itu, Marsinah hilang. Dia diculik, diperkosa, disiksa, dan dibunuh dengan kejam. Jenazahnya ditemukan dalam kondisi menyedihkan, sehari setelah dia hilang.

Kematian Marsinah bukanlah akhir dari perjuangan para buruh. Sebaliknya, ia menjadi simbol keberanian dalam melawan ketidakadilan. Kisah hidupnya menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang demi keadilan dan martabat manusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: berbagai sumber