Begini Skema Pengoplosan BBM Pertamina Menurut Kejagung

Kejagung tetapkan dua tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak Pertamina-Akun YouTube @kejaksaan-ri-
HARIAN DISWAY - Kejaksaan Agung RI mengungkap modus blending atau pengoplosan yang digunakan para tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pada tahun 2018-2023.
“Hasil penyidikan adalah RON 90 atau yang di bawahnya itu, tadi fakta yang ada di transaksi RON 88 di-blending dengan RON 92 dan dipasarkan seharga RON 92,” Tutur Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Abdul Qohar pada Kamis, 27 Februari 2025.
Sejauh ini, Kejagung menetapkan 9 tersangka antara lain:
- Riva Siahaan selaku Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga
- Sani Dinar Saifuddin selaku Direktur Feedstock dan Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional
- Yoki Firnandi selaku Direktur Utama PT Pertamina International Shipping
- Agus Purwono selaku VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional,
- Maya Kusmaya selaku Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga
- Edward Corne selaku VP Trading Operations PT Pertamina Patra Niaga.
- Muhammad Kerry Andrianto Riza selaku beneficial owner PT Navigator Khatulistiwa,
- Dimas Werhaspati selaku Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim, dan
- Gading Ramadhan Joedo selaku Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak.
BACA JUGA:Kejagung Ungkap Peran Dua Tersangka Baru Kasus Korupsi Minyak Mentah Pertamina
BACA JUGA:Profil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan, Tersangka Dugaan Korupsi Pertamina
Pada Senin, 24 Februari 2025, Qohar mengungkapkan bahwa para tersangka yang merupakan pejabat tinggi Pertamina sengaja mengurangi produksi kilang dan menolak untuk membeli hasil produksi minyak mentah dalam negeri dari KKKS.
Hal ini dilakukan agar kewajiban anak-anak perusahaan dan mitra-mitra Pertamina yang tergabung dalam KKKS gugur dan bisa langsung menjual hasil produksi mereka ke luar negeri (ekspor)
Dengan demikian Pertamina bisa melakukan impor minyak mentah atas dasar bahwa produksi dalam negeri tak memenuhi syarat.
PT Kilang Pertamina Internasional mengimpor minyak mentah, sementara PT Pertamina Patra Niaga mengimpor produk kilang. Harga impor tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan harga produksi minyak bumi dalam negeri.
Selanjutnya, dalam pengadaan produk kilang oleh Pertamina, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, melakukan pembelian atau pembayaran untuk RON 92, padahal yang dibeli sebenarnya adalah RON 90 atau yang lebih rendah.
RON 90 tersebut kemudian dioplos di storage dan diubah menjadi RON 92.
BACA JUGA: Pertamina Pastikan Pertamax Bukan Oplosan, Bantah Isu di Media Sosial
BACA JUGA:Kejagung Sita Uang Ratusan Juta di Kasus Korupsi Pertamina, Kerugian Negara Capai Rp 193,7 Triliun
Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga, Maya Kusmaya dan VP Trading Operations PT Pertamina Patra Niaga, Edward Corne diduga menerapkan modus yang sama terkait oplosan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: