Pengukuhan Guru Besar FISIP, Universitas Airlangga: Gagasan Alternatif Pembangunan di Indonesia

Pengukuhan Guru Besar FISIP, Universitas Airlangga: Gagasan Alternatif Pembangunan di Indonesia

ENAM guru besar baru dari FISIP, Universitas Airlangga, dikukuhkan. Mereka adalah Septi Ariadi, Koko Srimulyo, Siti Masudah, Sulikah Asmorowati, Muhammad Adib, dan Dwi Windyastuti Budi Hendrarti.-Humas Unair-

PENGUKUHAN guru besar kali ini terasa istimewa. Kamis, 27 Februari 2025, enam guru besar yang dikukuhkan berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga. Dalam setahun terakhir, FISIP menambah sembilan guru besar baru sehingga jumlah total guru besar yang dimiliki FISIP saat ini 22 orang. Tahun 2025 ini diharapkan FISIP akan dapat menambah lima orang lagi guru besar baru. 

Acara pengukuhan guru besar dipimpin Rektor Universitas Airlangga Prof Muhammad Nasih, Ketua Senat Akademik Prof Nur Salam, para wakil rektor, para dekan, para guru besar, dan para undangan lainnya. Bagi FISIP, Universitas Airlangga, pengukuhan enam guru besar baru itu sangat membahagiakan sekaligus membanggakan. 

Setiap penambahan guru besar baru tentu menjadi modal sosial sekaligus memperkuat fondasi untuk mendorong perkembangan kualitas pembelajaran di FISIP. Mahasiswa sebagai subjek pembelajaran utama diharapkan dapat merasakan manfaat yang nyata dari kehadiran enam guru besar baru tersebut. 

BACA JUGA:Pengukuhan Guru Besar FKH Universitas Airlangga: Upaya Mendukung Swasembada Pangan

BACA JUGA:Pengukuhan Guru Besar Kehormatan Universitas Airlangga Prof. (HCUA) Dr. H. Sunarto, S.H., M.H.: Hakim Adalah Corong Keadilan

Enam guru besar baru dari FISIP yang dikukuhkan adalah Septi Ariadi, Koko Srimulyo, Siti Masudah, Sulikah Asmorowati, Muhammad Adib, dan Dwi Windyastuti Budi Hendrarti.

HETEROTOPIA

Salah satu pidato menarik dari guru besar yang dikukuhkan disampaikan Prof Koko Srimulyo. Dalam memulai pidato orasinya, Koko yang dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu manajemen perpustakaan menyampaikan sebuah pertanyaan retorik. 

Ketika masyarakat makin bergulir menjadi serbadigital, pertanyaan penting yang perlu dikaji adalah seberapa jauh perpustakaan masih relevan memenuhi kebutuhan masyarakat? Berbeda dengan era di mana internet masih belum hadir, saat ini perkembangan teknologi informasi dan dunia maya menawarkan kekayaan informasi yang tanpa batas. 

BACA JUGA:Pengukuhan Guru Besar Universitas Airlangga: Kritik di Tahun Politik

BACA JUGA:Pengukuhan 3 Guru Besar Untag Surabaya: Ilmu, Tawa, dan Harapan

Di era perkembangan masyarakat informasi yang makin masif, bagaimana caranya agar perpustakaan mampu survive dan tidak ditinggal para penggunanya. Di masa sekarang, kita tahu masyarakat telah dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia dan seisinya telah mengalami banyak perubahan yang begitu cepat. 

Masyarakat beralih dari tradisi lisan ke tradisi tulisan; dari koleksi tradisional ke koleksi virtual; dari masyarakat industrial ke masyarakat informasi; lalu saat ini kita menyambut era masyarakat supercerdas atau yang disebut sebagai era artificial intelligence (AI). 

Masyarakat informasi dengan kemajuan teknologi informasi dan big data menjadi tantangan besar bagi perpustakaan. Di satu sisi, kebutuhan akan informasi yang sangat tinggi menjadikan perpustakaan dan pustakawan, yang dekat dengan sumber informasi, berada pada posisi yang diuntungkan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: