Pengukuhan Guru Besar FISIP, Universitas Airlangga: Gagasan Alternatif Pembangunan di Indonesia

Pengukuhan Guru Besar FISIP, Universitas Airlangga: Gagasan Alternatif Pembangunan di Indonesia

ENAM guru besar baru dari FISIP, Universitas Airlangga, dikukuhkan. Mereka adalah Septi Ariadi, Koko Srimulyo, Siti Masudah, Sulikah Asmorowati, Muhammad Adib, dan Dwi Windyastuti Budi Hendrarti.-Humas Unair-

Di era masyarakat kontemporer, hadirnya generasi Z dengan karakteristik mereka yang khas memerlukan cara pandang baru yang lebih konstekstual. Teori sosiologi keluarga yang lama tidak lagi relevan dan teori baru sangat penting untuk digunakan. 

Bagi masyarakat Indonesia, kita menyadari bahwa perubahan keluarga merupakan proses tak terelakkan. Perubahan zaman dan munculnya generasi Z, alpha, beta, dan gamma menuntut transformasi keluarga dengan cara pandang baru yang relevan dan kontekstual yang mampu menjawab tantangan zaman. 

Akan tetapi, harus diakui bahwa bukanlah hal yang mudah untuk dapat memastikan arah transformasi keluarga supaya bisa berjalan berdasar koridor yang diharapkan. Hingga saat ini, pembangunan keluarga belum mampu sepenuhnya mewujudkan keluarga berkualitas. Berbagai permasalahan yang terjadi menunjukkan bahwa perlu upaya transformatif dalam mewujudkan keluarga berkualitas. 

Siti Masudah menawarkan rekomendasi terkait pembangunan keluarga berkualitas di Indonesia. Pada tataran teoretis, kerangka konseptual yang lebih relevan dan konteksual dengan karakteristik masyarakat kontemporer merupakan urgensi dalam pembangunan keluarga berkualitas di Indonesia. 

Pada tataran praksis, pembangunan keluarga di Indonesia perlu memperhatikan perubahan masyarakat yang makin likuid. Pandangan kritis terhadap konsep, variabel, serta indikator yang digunakan dalam mengukur keberhasilan dan praktik pembangunan keluarga sangat diperlukan. 

Dalam pidato pengukuhannya, Siti Masudah menawarkan konsep alternating family yang memiliki urgensi dalam membangun keluarga berkualitas di Indonesia.  

Alternating family tidak hanya equal partner, tetapi lebih mendalam dari itu, karena meliputi aspek batin hubungan dalam keluarga (kebahagiaan, kepuasan, kemandirian, dan ketenteraman), serta keberhargaan sosial. Alternating family mengkritisi fungsi, peran, dan hubungan keluarga dalam masyarakat yang bersifat kurang dinamis. 

Dalam alternating family, setiap individu memiliki peran yang setara, tidak ada yang berposisi dominan, pengambilan keputusan didiskusikan bersama, setiap individu dapat mengembangkan potensi dan mengaktualisasikan diri, serta mempunyai hak yang sama. 

GAGASAN ALTERNATIF

Pembangunan bidang sosial, harus diakui, bukan hal yang mudah. Ketika bidang dan isu-isu sosial hanya ditempatkan sebagai penghambat pembangunan dan dinilai sekadar efek samping dari pembangunan ekonomi, sepanjang itu pula akan tetap bermunculan berbagai isu sosial yang menyebabkan sebagian masyarakat terpaksa hanya sebagai penonton pembangunan.

Apa yang ditawarkan para guru besar baru dari FISIP adalah pikiran-pikiran alternatif yang bisa dikembangkan dan dijadikan acuan dalam perumusan dan pelaksanaan program pembangunan di tanah air. 

Mengatasi stagnasi pembangunan yang lebih banyak berkutat pada program-program pembangunan yang bersifat amal-karitatif, ada baiknya jika kita menoleh pada gagasan-gagasan alternatif yang ditawarkan para guru besar baru dari FISIP. Semoga. (*)


*) Rahma Sugihartati adalah guru besar sains informasi dan perpustakaan, FISIP, Universitas Airlangga.


*) Bagong Suyanto adalah dekan FISIP, Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: