Pengukuhan Guru Besar FISIP, Universitas Airlangga: Gagasan Alternatif Pembangunan di Indonesia

Pengukuhan Guru Besar FISIP, Universitas Airlangga: Gagasan Alternatif Pembangunan di Indonesia

ENAM guru besar baru dari FISIP, Universitas Airlangga, dikukuhkan. Mereka adalah Septi Ariadi, Koko Srimulyo, Siti Masudah, Sulikah Asmorowati, Muhammad Adib, dan Dwi Windyastuti Budi Hendrarti.-Humas Unair-

BACA JUGA:ITS Kukuhkan 7 Guru Besar Lagi, Rektor Minta Mereka Aktif Cari Dana Riset dari Luar Negeri

BACA JUGA:Unair Tambah 16 Guru Besar, Total Kini Punya 372 Profesor

Di sisi lain, perkembangan teknologi yang sangat pesat sekaligus menjadikan perpustakaan bukanlah sumber informasi satu-satunya yang tersedia bagi masyarakat saat ini. Masyarakat dewasa ini bisa dengan cepat dan mudah mengakses informasi apa pun di berbagai mesin pencari informasi, platform digital, atau di shadow libraries (perpustakaan bayangan) secara online.

Dalam rangka menghadapi perubahan dan tantangan dalam masyarakat informasi, para pustakawan, menurut Koko, perlu memahami satu konsep penting, yaitu heterotopia. 

Menghadirkan heterotopia ke dalam tubuh perpustakaan berarti menata kembali peran perpustakaan dalam masyarakat sekaligus membongkar tradisi lama tentang perpustakaan yang membosankan dengan cara menghadirkan ”alternatif lain”. 

BACA JUGA:Kukuhkan 9 Guru Besar, Rektor Unesa Akui Kekurangan Gubes

BACA JUGA:7 Profil Guru Besar Kompeten, Ikut dalam Kabinet Prabowo?

Tawaran Foucault menghadirkan heterotopia adalah menghadirkan ”cermin” yang mampu memantulkan mimpi-mimpi yang utopis ke dalam ruang yang nyata. 

BIOPOWER

Prof Septi Ariadi adalah guru besar bidang sosiologi kependudukan dan perilaku sehat. Dalam orasinya, Septi memaparkan konsep biopower. Konsep yang diperkenalkan filsuf Prancis Michael Foucault itu menjadi landasan teoretis penting dalam memahami bagaimana kekuasaan mengelola kehidupan manusia, khususnya dalam konteks pembangunan kependudukan dan kesehatan. 

Biopower merupakan bentuk kekuasaan yang mengatur populasi melalui kontrol atas tubuh individu (anatomo-politics) maupun populasi (bio-politics) yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. 

Negara menggunakan mekanisme biopolitik untuk mengelola populasi melalui kebijakan publik, sistem kesehatan, dan hukum. Lebih dari sekadar pengawasan, biopower mencerminkan bagaimana negara dan institusi lainnya mendisiplinkan, mengatur, dan mengontrol kehidupan demi mencapai tujuan tertentu, seperti pengendalian populasi, peningkatan kesehatan masyarakat, dan stabilitas sosial. 

Mendekonstruksi praktik biopower, sebagaimana dikontekstualisasikan dalam pembangunan kependudukan dan kesehatan, menjadi kebutuhan mendesak dengan tujuan tidak hanya membongkar praktik kekuasaan yang tidak adil, timpang, serta diskriminatif, tetapi juga mengarahkan ulang kebijakan ke arah yang lebih humanis, adil, dan berbasis hak asasi manusia. 

SOSIOLOGI KELUARGA

Dari departemen sosiologi, guru besar yang dikukuhkan selain Septi Ariadi adalah Prof Siti Masudah. Siti Masudah dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu sosiologi keluarga. Dalam orasinya, Siti menyatakan bahwa pembangunan keluarga di Indonesia harus memperhatikan perkembangan masyarakat. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: