Paradoks Lebaran di Era Digital

Berkumpul bersama keluarga di hari raya Idulfitri menjadi momen kebahagiaan yang paling ditunggu-Freepik-
Kirimlah pesan yang tulus meski hanya kepada segelintir orang. Ucapkanlah dari hati, bukan dari template. Datangi mereka yang mungkin menunggu, bukan hanya yang paling mudah dijangkau.
Sejatinya, yang membuat Lebaran berkesan bukan jumlah pesan yang masuk, melainkan kedalaman makna yang terjalin. Yang abadi bukan foto keluarga berseragam, melainkan salaman dan pelukan yang menyembuhkan luka.
Dan, yang fitri bukan hanya pakaian bersih, melainkan jiwa yang telah berdamai dengan masa lalu.
Dalam kehidupan yang makin cepat dan riuh, mungkin justru keheninganlah yang perlu kita perjuangkan. Sebab, di sanalah makna sejati tinggal, dalam jeda, dalam sapa yang tak terburu, dan dalam rasa yang tidak tergantikan oleh layar.
Agar Lebaran tak sekadar jadi ritual, tetapi menjadi ruang pulang yang sesungguhnya, tidak hanya dalam folder memori, tetapi juga di ruang hati yang paling dalam.
Selamat berlebaran...! (*)
*) Machsus adalah Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sarana Prasarana Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: