Paradoks Lebaran di Era Digital

Berkumpul bersama keluarga di hari raya Idulfitri menjadi momen kebahagiaan yang paling ditunggu-Freepik-
Rasanya berbeda dengan masa lalu, ketika kartu Lebaran dipilih dengan hati-hati, ditulis tangan dengan penuh perenungan, lalu dikirim lewat pos, lengkap dengan prangko dan harapan yang pelan-pelan menyusuri jarak. Kala itu, sebuah ucapan adalah ekspresi jiwa, bukan sekadar formalitas tahunan.
BACA JUGA:Sejarah Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia: Dari Zaman Kerajaan hingga Era Modern
BACA JUGA:Ini Dia Dekorasi Rumah Minimalis untuk Lebaran 2025
Sherry Turkle, profesor dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT) dalam bukunya, Alone Together (2011), mengurai fenomena itu dengan tajam. Dalam buku tersebut, Turkle menyoroti bagaimana teknologi membuat kita selalu terhubung, tetapi justru kian terasing.
Singkatnya, perkembangan teknologi yang pesat telah menurunkan kehidupan emosional manusia.
Kita mungkin memiliki ribuan kontak, tetapi perbincangan yang benar-benar menyentuh jiwa bisa dihitung jari. Kita ramai di layar, tapi sepi dalam rasa.
BACA JUGA:9 Penyakit yang Biasanya Kambuh saat Lebaran, Kebanyakan karena Makanan
BACA JUGA:Abadikan Momen Lebaran: Mulai Dari Merekam Kebahagiaan Hingga Kenangan Yang Tak Terlupakan
SILATURAHMI TERFRAGMENTASI
Silaturahmi pun kini dibingkai dalam format digital. Panggilan video menggantikan hangatnya bersalaman dan tatap muka. Story Instagram menjelma sebagai wadah permohonan maaf massal.
Grup WhatsApp berubah menjadi panggung ucapan Lebaran yang seragam dikirimkan bersamaan, nyaris tanpa jeda dan rasa. Kita menyapa yang jauh, tetapi melupakan yang dekat. Kita hadir di ruang-ruang digital, tapi absen di ruang batin satu sama lain.
Martin Heidegger, filsuf Jerman, dalam esainya, The Question Concerning Technology (1954), mengingatkan bahwa teknologi bukan hanya alat, melainkan sesuatu yang memengaruhi cara manusia memahami keberadaan. Ia menolak pandangan yang memosisikan teknologi hanya sebagai sarana netral untuk mencapai tujuan manusia.
BACA JUGA:6 Aplikasi Pemantau Kemacetan Lalu Lintas untuk Mudik Lebaran 2025
BACA JUGA:7 Ide Dekorasi Lebaran untuk Mempercantik Ruangan di Rumah
Heidegger justru menyebut teknologi modern sebagai kekuatan yang menyembunyikan kebenaran eksistensial. Dalam konteks Lebaran digital, kecepatan dan efisiensi komunikasi justru menutupi kerinduan akan perjumpaan yang otentik, yang tak bisa diwakili layar atau sinyal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: