Ramadan: Bebas dari Keserakahan

REKTOR Universitas Airlangga Prof Muhammad Nasih bersama mahasiswa asing Unair setelah salat Id 1446 H/2025 M di Masjid Ulul Azmi, Unair.-Bagong Suyanto untuk HARIAN DISWAY-
BACA JUGA:Ramadan dan Antropologi Rasa
Meski seorang penguasa memiliki kekayaan miliaran rupiah, tetapi bila di hatinya selalu ada rasa tidak puas dan serakah, jangan heran jika selama menjabat sering menyalahgunakan jabatannya untuk mengeruk keuntungan pribadi.
Selama bulan Ramadan, kita tahu ada banyak kemudahan yang telah kita terima. Pada hari raya Idulfitri, kita telah diberi fasilitas yang serba menyenangkan. Libur panjang yang bisa dimanfaatkan untuk pulang kampung, THR, dan lain sebagainya adalah kemerdekaan dari rutinitas hidup sehari-hari.
Selama merayakan Lebaran, orang tidak dibebani dengan pekerjaan kantor. Mereka bisa memanfaatkan waktu luang untuk bercengkerama dengan sanak saudara, jalan-jalan atau bermain bersama anak-anaknya.
BACA JUGA:Ramadan, Momentum untuk Melawan Darurat Korupsi
BACA JUGA:Ramadan dan Lebaran: Momentum Mencetak Generasi Unggulan
Pintu neraka ditutup selama bulan Ramadan. Dalam H.R. Bukhari dan Muslim disebutkan, ”Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu”.
Hadis itu menunjukkan bahwa selama bulan Ramadan, Allah SWT memberikan kesempatan kepada umat-Nya untuk memperbaiki diri dan meningkatkan amal ibadahnya sehingga pintu surga akan terbuka lebar, sedangkan pintu neraka akan ditutup.
Kegembiraan umat Islam adalah bila kita dapat ”bertemu” dengan Allah SWT. Umat Islam akan selalu berusaha untuk meneladani sifat-sifat Allah. Artinya, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus selalu melihat sifat-sifat Allah dan kemudian berusaha untuk menjalaninya dengan rida Allah.
BACA JUGA:Momentum Puasa Ramadan: Jalin Hubungan Baik dengan Alam Semesta
BACA JUGA:Sambut Idulfitri, Menag Ajak Seluruh Masyarakat Indonesia Jaga Spirit Ramadan
KECINTAAN DUNIAWI
Menurut Prof Nasih, ada tiga klasifikasi yang menggambarkan manusia. Pertama, manusia adalah seonggok jasmani. Kedua, manusia memiliki keilmuan sosial. Yang ketiga, manusia sebagai al-insan, yakni umat yang dilengkapi dengan intelektualitas.
Umat Islam seyogianya tidak mengembangkan kecintaan yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi. Orang yang tidak bisa mengendalikan diri adalah orang yang kalah dengan hawa nafsu.
Umat Islam yang seharusnya mampu dan memiliki kapasitas untuk mengelola rohani dan jasmaninya bukan tidak mungkin tergelincir dan tumbuh menjadi sosok yang serakah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: