Guru Kimia di Los Angeles Hentikan Penggunaan Chromebook, Lebih Efektif dengan Kertas dan Pensil

Guru Kimia di Los Angeles Hentikan Penggunaan Chromebook, Lebih Efektif dengan Kertas dan Pensil

Mengajar dengan metode konvensional dapat membantu meningkatkan keterlibatan siswa serta melatih keterampilan organisasi mereka.--freepik.com

HARIAN DISWAY - Di tengah semakin meluasnya penggunaan perangkat digital di ruang kelas Amerika Serikat, seorang guru kimia di Los Angeles, Marcie Samayoa, justru mengambil langkah berbeda. Dia memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Chromebook dalam proses belajar-mengajarnya.

Keputusan tersebut diambil setelah bertahun-tahun menghadapi masalah yang ditimbulkan perangkat tersebut. Samayoa menuturkan, alih-alih membantu, Chromebook justru kerap menjadi sumber gangguan. 

Banyak siswanya menggunakan kesempatan belajar mandiri untuk membuka Netflix, menonton YouTube, atau mencoba masuk ke Instagram meski akses sudah dibatasi pihak sekolah.

BACA JUGA:Siswa ITCC Raih Beasiswa ke Tiongkok (1): Bening Tilu Kejar Cita-Cita Mulia

“Sebagai guru, saya merasa energi saya habis hanya untuk mengawasi penggunaan Chromebook. Rasanya seperti main ‘whack-a-mole’ setiap kali ada yang membuka perangkatnya di luar instruksi,” kata Samayoa.


Penggunaan Chromebook justru kerap menjadi sumber gangguan di dalam kelas.--freepik.com

Dari Digital ke Metode Konvensional

Chromebook sebelumnya menjadi alat utama saat pembelajaran jarak jauh di masa pandemi. Samayoa pun pernah memanfaatkan buku catatan digital dan Google Slides agar materi mudah diakses siswa. 

Namun, setelah kembali ke kelas tatap muka, ia mulai menyadari banyak hal yang hilang: fokus, keterlibatan, dan bahkan energi dirinya sebagai pengajar.

BACA JUGA:ISNU Jatim Dukung Disway Mandarin Debate & Speech Competition 2025

Pada musim panas lalu, Samayoa memutuskan mengubah seluruh materi digital ke dalam format cetak. “Saya harus memformat ulang semuanya. Tapi perbedaannya luar biasa. Siswa lebih fokus dan saya bisa lebih banyak menghabiskan energi untuk mengajar. Bukan mengatur layar,” ujarnya.

Kini, siswa di kelasnya lebih banyak bekerja menggunakan kertas, pensil, dan papan tulis mini. Menurutnya, metode tersebut mampu meningkatkan keterlibatan siswa. Serta melatih keterampilan organisasi mereka melalui sistem folder yang dia terapkan.

Gangguan yang Meluas

Fenomena distraksi akibat perangkat digital bukan hanya dialami Samayoa. Survei EdWeek Research Center tahun 2025 menunjukkan, 56 persen pendidik di AS menganggap perilaku siswa yang tidak sesuai tugas saat menggunakan laptop atau tablet menjadi sumber gangguan utama. Itu mengurangi waktu belajar.

BACA JUGA:Pekan Raya SAIM 2025 Jadi Momentum Bonding Orang Tua dan Anak, FORSAIM Jadi Motor Utama

Padahal, hanya empat tahun sebelumnya, survei yang sama mencatat 90 persen sekolah menengah di AS sudah membekali setiap siswanya dengan perangkat digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: education week