Harian Disway di China International Press Communication Center (CIPCC) (5): Perlawanan Tiongkok, Diplomasi Kini
Profesor Dr Wang Yiwei menyampaikan materi kepada para jurnalis berbagai negara, Selasa, 26 Agustus 2025. -Doan Widhiandono-
Pekan pertama program China International Press Communication Center (CIPCC) memang diwarnai dengan pengenalan banyak hal tentang Tiongkok. Terutama, sejarah bangsa itu. Agar para jurnalis memiliki bekal konteks dalam menulis kisah mereka di negeri ini.
ADALAH Prof Dr Wang Yiwei yang berbicara di depan para jurnalis, Selasa, 26 Agustus 2025. Ia menerangkan banyak hal tentang arti sejarah perlawanan Tiongkok melawan Jepang.
Ya, tema acara yang kami ikuti adalah The global significance of the Chinese People’s War of Resistance Against Japanese Aggression. Tempatnya di Aula Multiguna Jianguomen Diplomatic Residence Compound (DRC), Chaoyang, Beijing.
Acara dua jam itu diikuti peserta China International Press Communication Center (CIPCC) 2025. Program yang berlangsung Agustus–Desember ini diikuti jurnalis dari berbagai negara.
Yiwei adalah akademisi di Renmin University of China. Ia juga guru besar di Jean Monet Chair, aktivitas akademik untuk para profesor dan dosen senior. Selain itu, Yiwei juga Wakil Presiden Academy of Xi Jinping Thought on Socialism with Chinese Characteristics for a New Era di Renmin University of China.
Ia mengawali penjelasan dengan mengingatkan akar dari fasisme. ”Fasisme lahir dari perasaan superioritas bangsa tertentu. Karena kamu miskin, kami berhak menjajah kamu. Tetapi Tiongkok modern tidak berpikiran seperti itu,” ujarnya.
Menurut Yiwei, dalam perang brutal awal abad lalu, perlawanan rakyat Tiongkok adalah yang pertama dan paling lama. Secara nasional, mereka berhasil mempertahankan medan tempur di kawasan Timur.
“Itu berkontribusi pada kemenangan global melawan fasisme,” kata Yiwei.
PEMIMPIN REDAKSI Harian Disway Doan Widhiandono (kanan) ketika berdiskusi dengan Prof Wang Yiwei setelah acara.-Dokumen Pribadi-
Kemenangan itu, lanjutnya, menjadi fondasi kebangkitan bangsa Tiongkok. Menjadi dasar modernisasi. Sekaligus membentuk komunitas bersama demi masa depan umat manusia.
”We prefer freedom,” ia menegaskan. Bagi Yiwei, kemenangan rakyat Tiongkok tidak hanya berarti lepas dari penjajahan, tetapi juga melanjutkan warisan budaya.
Dalam sesi tanya jawab selepas ’’kuliah sore’’ tersebut, Harian Disway menanyakan apakah sejarah panjang itu membentuk diplomasi Tiongkok saat ini. Apakah diplomasi itu bisa berubah?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: