Harian Disway di China International Press Communication Center (CIPCC) (7): Tertegun Pedihnya Perang
SEORANG BOCAH TERTEGUN di depan foto kekejaman tentara Jepang yang terjadi selama perang 1931-1945.-Doan Widhiandono-
Museum Perang Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang bak buku sejarah. Yang lembar-lembar halamannya disajikan dengan runtut, menarik, dan meninggalkan kesan mendalam.
BEGITU melewati gerbang Benteng Wanping, Rabu, 27 Agustus 2025, kami diarahkan menuju bangunan besar bercorak modern. Itulah Museum Perang Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang.
Dari luar, fasadnya sederhana, bertangga lebar, dengan dinding batu kelabu. Hujan yang makin deras membuat kami bersicepat. Antara penasaran dengan isi museum, penasaran dengan kegiatan apa yang kami hadiri, dan tak sabar ingin segera berteduh.
Dan di dalam museum itulah kami mendapati sangat banyak catatan sejarah. Begitu banyaknya, sehingga satu kali kedatangan seolah tak cukup merekam itu semua. Meskipun para jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) banyak yang membawa kamera dan perekam andal.
Sembari menelusuri satu per satu koleksi, guide menjelaskan bahwa museum itu dibuka pada 1987. Bertepatan dengan peringatan 50 tahun Insiden Marco Polo Bridge. Koleksinya lebih dari 35 ribu benda, foto, dan dokumen. Semua dikurasi untuk menegaskan satu hal: penderitaan dan keteguhan rakyat Tiongkok dalam perang 1931–1945.
Koleksi pun disajikan secara runtut mulai awal hingga akhir perang. Ada foto-foto Jepang yang perlahan memperluas pengaruh militernya sejak awal 1930-an, termasuk pendudukan Manchuria. Peta interaktif menunjukkan bagaimana pasukan Jepang bergerak mendekati Beijing.
Ada juga ruang yang atmosfernya sangat kelam. Menampilkan kekejaman militer Jepang. Termasuk pada Pembantaian Nanjing (Nanking) pada 1937. Foto-foto hitam putih memenuhi dinding: eksekusi massal, desa yang dibakar, korban sipil tergeletak. Salah satu foto yang menyentuh adalah anak kecil telanjang yang menangis sendirian di tengah jalan.
Koleksi lain muncul dari kenangan-kenangan warga sipil. Dokumen pribadi, surat, kartu keluarga, buku sekolah, hingga puisi dan lagu.
DIORAMA prajurit menembak ini menggambarkan sengitnya perang kota di dalam Benteng Wanping.-Doan Widhiandono-
Ruang terakhir menampilkan kemenangan. Ada diorama besar tentang penyerahan Jepang pada 1945. Foto pasukan Tiongkok masuk kembali ke kota-kota yang dulu diduduki. Suasana lebih terang. Bak sebuah penutup yang optimistis.
Di bagian akhir perjalanan itu, ada dinding besar yang dipenuhi foto-foto kecil. Jumlahnya: 5.098. Foto-foto tua itu menjadi pengingat sejarah perlawanan 450 juta rakyat Tiongkok melawan Jepang yang berlangsung pada 18 September 1931-2 September 1945. Jumlah harinya: 5.098.
Foto-foto itu membentuk mozaik yang berpendar. Membentuk pola. Angka tahun plus obor yang menyimbolkan api semangat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: