Harian Disway di China International Press Communication Center (CIPCC) (6): Memori Perang di Tengah Kota Tua

Harian Disway di China International Press Communication Center (CIPCC) (6): Memori Perang di Tengah Kota Tua

Peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) usai mengunjungi Museum Perang Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang. -Doan Widhiandono-

Peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) diajak ke Museum Perang Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang. Inilah museum paling komprehensif yang menggambarkan penderitaan hingga kemenangan perang yang berakhir delapan dekade silam.

HUJAN masih rintik-rintik ketika bus rombongan kami mulai melambat di sekitar Benteng Wanping, Distrik Fengtai, Beijing, Rabu, 27 Agustus 2025. Di luar, tampak benteng tua yang berdiri kukuh. Tembok kelabunya seperti bertahan diempas waktu. Meskipun, di sejumlah bagiannya tampak bolong. Bekas gempuran perang. Beberapa bagian itu ditandai dengan prasasti. Penanda betapa sengitnya perang.

Bus kami masuk dari gerbang timur. Gerbang kuno itu pas banget dengan bodi bus. Sampai harus mengambil haluan agak lebar. Agar benar-benar bisa masuk dengan lurus.

Ya, itulah jalan masuk ke Museum Perang Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang. Artinya, benteng itu bukan sekadar bangunan batu. Melainkan gerbang menuju memori kolektif bangsa Tiongkok.

BACA JUGA:Harian Disway di China International Press Communication Center (CIPCC) (5): Perlawanan Tiongkok, Diplomasi Kini

BACA JUGA:Harian Disway di China International Press Communication Center (CIPCC) (4): Rawat Jiwa Lewat Pertukaran

Benteng Wanping dibangun pada tahun 1638, di masa akhir Dinasti Ming. Letaknya strategis, menghadap ke Sungai Yongding. Fungsinya kala itu sederhana tapi vital: mengamankan perlintasan ke ibu kota dari arah barat daya.

Bentuknya persegi. Dikelilingi tembok setinggi 10 meter dan tebal sekitar 4 meter. Di sisi utara dan selatan ada dua gerbang utama, masing-masing dilengkapi menara penjaga. Benteng itu awalnya didesain untuk menampung garnisun militer dan warga sipil. Karenanya, di dalamnya masih terdapat gerbang kecil yang kini menjadi bagian dari museum.

Benteng itu pun seperti mesin waktu yang menyimpan jejak masa silam. Masih terasa gema pertempuran lama. Yang saban tahun diperingati oleh rakyat Tiongkok sebagai hari pembebasan terhadap agresi musuh. Pesannya jelas: di situlah awal perlawanan, di situlah rakyat Tiongkok berdiri menghadapi agresor.

Wanping bukan sekadar benteng. Tempat itu juga punya makna simbolis karena berdekatan langsung dengan Lugou Qiao atau Marco Polo Bridge. Insiden 7 Juli 1937 yang meletus di jembatan itu menjalar cepat, dan Wanping menjadi salah satu titik pertahanan pertama.


RELIEF BESAR yang menggambarkan sosok-sosok, bangsa Tiongkok dalam sejarah panjangnya.-Doan Widhiandono-

Sejarah mencatat, malam itu pasukan Jepang menuntut masuk ke Wanping dengan alasan mencari seorang tentara yang hilang. Pemerintah Tiongkok menolak. Ketegangan berujung pada tembakan. Dari situlah perang Tiongkok–Jepang berkobar begitu lama: 1937-1945. Dengan korban begitu besar: lebih dari 35 juta warga dan tentara Tiongkok.

Maka, berdiri di depan gerbang tua itu seperti berdiri di ambang sebuah bab besar sejarah Asia. Seperti yang didiskusikan oleh Prof Wang Yiwei kepada jurnalis peserta program CIPCC, Selasa, 26 Agustus 2025.

Menurut berbagai sumber, Wanping pernah dihantam artileri Jepang di awal perang. Sebagian tembok runtuh, sebagian lain terbakar. Tetapi benteng itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia diperbaiki, dipugar, dan kini dijadikan situs sejarah nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: