Momen Pertaruhan Polri

Momen Pertaruhan Polri

ILUSTRASI Momen Pertaruhan Polri.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

JANGAN sakiti rakyat. Jangan pongah di depan rakyat. Jangan arogan terhadap rakyat. rakyat itu tiap saat perhatian dan mengawasi perilaku pemegang kekuasaan. Sekali salah bertindak, tindakan itu akan menyebar dan jadi bahan perbincangan. 

Apa yang terjadi dengan aksi polisi saat menangani demo, dalam hitungan menit, langsung menyebar. Begitu pun kejadian Brimob yang melindas driver ojol atau polisi nempeleng demonstran, langsung menyebar, jadi pemicu kemarahan. 

Di era medsos, penularan dan kemarahan kolektif itu bisa muncul begitu cepat. Perilaku arogan oknum polisi tidak bisa sembunyi dari kamera masyarakat. Drama kekerasan di medsos bisa jadi pemicu kemarahan dan antipati. 

BACA JUGA:Kerusuhan Demo di Grahadi: Massa Berkostum Hitam Datang tanpa Tuntutan

BACA JUGA:Demo Depan Grahadi Ricuh: Letupan Diduga Molotov hingga Petasan Bersahutan di Grahadi Surabaya

Polisi dianggap sebagai alat penguasa yang hanya membela struktur politik dan ekonomi, tapi represif kepada rakyat sendiri. Padahal, kebijakan penguasa dirasa jauh dari empati dan demokrasi. Terkesan meremehkan kritikan hingga perilaku penuh kepalsuan.

Sekarang terjadi akumulasi kekecewaan. Rakyat kecewa karena keadaan ekonomi yang terpuruk. Pengangguran yang menumpuk. Harga kebutuhan yang melambung. Ditambah adanya tontonan arogansi dan kekejaman aparat. Membuat keadaan memanas.

Tak heran jika rakyat, terutama anak muda, jadi mudah terprovokasi ikut demo yang kadang anarkistis. Walau dikatakan tidak memiliki isu politik yang signifikan. Tidak memiliki tokoh penanggung jawab dan agenda yang tampak jelas, tetapi demonya berlangsung masif dan agresif.

BACA JUGA: Propam: 7 Anggota Brimob Terbukti Langgar Kode Etik

BACA JUGA:Affan Tak Ikut Demonstrasi, Tewas Dilindas Rantis Brimob saat Antar Pesanan Makanan

Sepertinya para peserta unjuk rasa yang mayoritas generasi muda punya karakter tersendiri dengan agenda beragam sesuai kemarahan, kegeraman terhadap keadaan yang mereka rasakan tanpa peduli penilaian.

Sementara itu, elite politik tidak paham pada apa yang dirasa kaum muda yang sensitif pada isu sosial. Isu kesenjangan. Ketidakadilan dan pengangguran. Lebih sensitif lagi dengan tindakan aparat yang melakukan kekerasan.

Mereka muak saat melihat elite politik yang lekat dengan hidup mewah dan penyalahgunaan kekuasaan. Muak juga melihat polisi yang arogan dan represif serta melakukan kekerasan. Itulah yang menambah akumulasi kemarahan yang bisa menggerakkan demo-demo yang lebih masif.

BACA JUGA:Hendropriyono Tuding Dalang Kericuhan DPR Berasal dari Luar Negeri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: