UNESCO Luncurkan Museum Virtual Benda Budaya yang Dicuri, Dirancang Arsitek Pritzker Francis Kere

UNESCO Luncurkan Museum Virtual Benda Budaya yang Dicuri, Dirancang Arsitek Pritzker Francis Kere

Museum of Stolen Cultural Objects, museum virtual yang mengingatkan siapa saja pada Guggenheim karya Frank Lloyd Wright.-UNESCO-The Architect's Newspaper

Secara visual, desain Kéré menghadirkan pengalaman yang memadukan pendekatan kontemporer dan simbolik. Struktur museum mengambil bentuk tangga spiral lembut yang mengingatkan pada Museum Guggenheim karya Frank Lloyd Wright.

BACA JUGA:Jamaah Umrah Dewangga Tuntaskan Tawaf Wada, Nikmati Museum Al Amoudi sebelum Pulang

BACA JUGA:Perampokan Kilat di Museum Louvre, Pencuri Gasak 9 Bagian Mahkota dalam 7 Menit

Dengan satu klik atau sentuhan, pengunjung diajak “menaiki” jalur landai untuk melihat objek-objek yang dipamerkan. Seluruh struktur spiral itu ditempatkan dalam sebuah bola raksasa yang berdiri di atas lanskap bukit buatan.

Di dalam galeri, patung, topeng, dan artefak lain dipajang mengambang di atas plint silinder. Atau digantung pada panel-panel persegi panjang.

Nuansa futuristik berpadu dengan sentuhan naratif. Menciptakan ruang yang menekankan perenungan terhadap perjalanan sebuah artefak, dari konteks budaya asal hingga statusnya yang kini hilang atau diperdebatkan.

Kéré menjelaskan bahwa desain museum virtual tersebut terinspirasi dari pohon baobab, yang dianggap sebagai pusat kehidupan dalam banyak komunitas Afrika. Juga menjadi simbol ketahanan.

BACA JUGA:Kegiatan Pengmas Departemen Informasi dan Perpustakaan, FISIP, Unair: Membentuk Ekosistem Masyarakat Berpengetahuan Melalui Museum

BACA JUGA:Perampokan Besar di Museum Louvre, Koleksi Bersejarah Raib dalam 7 Menit


Karya seni melayang di atas pilar-pilar kecil berbentuk lingkaran di Museum of Stolen Cultural Object.-UNESCO-The Architect's Newspaper

“Meski pameran virtual ini tidak dapat menggantikan keberadaan fisik karya-karya tersebut, setidaknya ia mengembalikan akses fundamental dan memperkuat advokasi untuk pemulangan mereka,” ujar Kéré dilansir Dezeen.

Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, turut menegaskan pentingnya inisiatif itu ketika museum tersebut diperkenalkan kepada publik pada September lalu di Barcelona.

“Di musem ini setiap karya dipresentasikan sebagai eksplorasi mendalam terhadap dunianya sendiri, juga terhadap gerakan budaya dan sosial saat karya itu lahir,” ujarnya.

Dengan peluncuran museum virtual tersebut, UNESCO berharap dapat membuka percakapan baru tentang warisan budaya dunia, mengembalikan memori kolektif yang hilang, serta menguatkan komitmen global dalam memerangi perdagangan ilegal artefak budaya.

BACA JUGA:Museum, Jembatan Masa Lalu dan Masa Kini: Refleksi Hari Museum Nasional 12 Oktober

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: the architec's newspaper