Museum Tembakau Jember: Menolak Menjadi Monumen Bisu 'Daun Emas'

Museum Tembakau Jember: Menolak Menjadi Monumen Bisu 'Daun Emas'

ILUSTRASI Museum Tembakau Jember: Menolak Menjadi Monumen Bisu 'Daun Emas'.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Zaman sudah berubah drastis. Generasi masa kini menuntut pengalaman yang imersif. Museum harus bertransformasi dari sekadar ruang pamer menjadi panggung pertunjukan sejarah. 

Teknologi proyeksi visual, panduan audio yang naratif, atau bahkan augmented reality (AR) bisa menghadirkan sosok George Birnie atau petani tembakau tempo dulu di hadapan pengunjung. 

Bayangkan jika pengunjung bisa melihat proses pengolahan tembakau secara virtual seolah-olah peristiwa tersebut terjadi tepat di depan mata.

Pendekatan sensorik juga perlu diperkuat. Museum tersebut sebenarnya memiliki modal besar: aroma. Pengalaman mencium berbagai varian tembakau, mulai na-oogst hingga kasturi, harus dikemas menjadi atraksi utama. 

Biarkan pengunjung menyentuh tekstur daun, membedakan kualitas, dan memahami kerumitan di balik sebatang cerutu. Hal tersebut akan menciptakan ikatan emosional yang jauh lebih kuat daripada sekadar membaca papan keterangan yang penuh debu.

DIVERSIFIKASI SEBAGAI JENDELA MASA DEPAN

Satu hal yang sering luput dari perhatian publik adalah potensi tembakau di luar industri rokok. 

Museum Tembakau Jember menyimpan koleksi produk diversifikasi yang luar biasa, mulai parfum, sabun, pestisida organik, hingga minyak asiri. Sayangnya, koleksi tersebut sering kali hanya menjadi pelengkap, bukan primadona.

Padahal, di tengah kampanye kesehatan global yang sangat gencar, diversifikasi menjadi jalan keselamatan bagi identitas tembakau Jember. 

Museum harus mengambil peran sebagai garda terdepan dalam mengampanyekan wajah lain dari tembakau. Tembakau bukan hanya soal asap, melainkan juga tentang esensi tanaman yang kaya manfaat.

Produk-produk turunan tersebut harus mendapatkan panggung utama. Narasinya perlu diubah dari ”sejarah masa lalu” menjadi ”inovasi masa depan”. 

Parfum beraroma tembakau yang maskulin dan elegan, misalnya, memiliki potensi pasar gaya hidup yang sangat besar. Sabun kesehatan berbahan ekstrak tembakau juga bisa menjadi produk unggulan daerah.

DIPLOMASI BUDAYA TANPA SEKAT

Jember pernah memiliki koneksi kuat dengan pasar Eropa, khususnya Bremen di Jerman. Jejak sejarah perdagangan internasional tersebut merupakan aset diplomasi yang sangat berharga. 

Museum Tembakau tidak boleh hanya jago kandang. Narasi sejarah tersebut harus dibawa keluar, melintasi batas geografis melalui strategi diplomasi budaya yang cerdas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: