Great Detachment: Kerja Jalan, Hati Diam
ILUSTRASI Great Detachment: Kerja Jalan, Hati Diam.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
DUDUK MANIS di depan laptop itu mudah. Yang sulit adalah memastikan hati ikut duduk bersama kita. Belakangan, hati sering lebih dulu pergi, seperti punya agenda sendiri. Mungkin itu tanda bahwa sesuatu dalam cara kita bekerja sedang berubah.
Gallup dalam laporan State of the Global Workplace: 2025 menemukan bahwa hanya 21 persen pekerja global yang benar-benar terlibat secara emosional dengan pekerjaannya. Sebanyak 62 persen bergerak dalam rutinitas tanpa keterikatan dan 17 persen lainnya bahkan aktif menjauh secara mental.
Angka-angka itu membuat kita mengangguk pelan, seolah ada bisik halus bahwa ternyata bukan kita saja yang merasakan jarak yang tumbuh di dalam diri saat bekerja.
Istilah great detachment dipakai para peneliti untuk menggambarkan fase baru dunia kerja: orang-orang yang tetap hadir, tetap menyelesaikan tugas, tetapi keterikatannya perlahan menjauh. Bukan resign, bukan protes, hanya jarak batin yang makin menjauh, pelan tanpa suara. Fenomena global itu mulai terasa jejaknya di banyak negara, termasuk di sekitar kita.
Psikologi punya cara lembut untuk menjelaskan itu. Self-Determination Theory oleh Edward Deci dan Richard Ryan (1985) menyebut tiga kebutuhan dasar manusia saat bekerja: merasa punya kendali, merasa berkembang, dan merasa terhubung. Ketika salah satu terganggu, semangat kerja ikut merosot. Bukan karena malas, melainkan karena ada bagian dalam diri yang kehilangan sentuhannya.
Menurut Denise Rousseau (1995) dalam Psychological Contract Theory, hubungan manusia dan tempat kerja dibangun di atas janji-janji tak tertulis. Kita berharap ada kejelasan arah, keadilan, dan relasi yang sehat. Ketika itu tidak terpenuhi, jarak mulai hadir. Bukan ledakan, melainkan redup yang bertahan lama.
Dunia kerja berubah lebih cepat daripada kemampuan kita memahami. Teknologi datang bergelombang, sistem berganti sebelum kita sempat akrab dengan yang sebelumnya. Kita belum sempat mengatur napas, tetapi ritme hari sudah mengajak kita berlari lagi.
Tidak heran kalau hidup kadang terasa seperti komputer yang membuka terlalu banyak tab, sementara tidak satu pun yang benar-benar sempat kita pahami.
Fenomena great detachment muncul dalam berbagai ruang kerja: guru dan dosen yang terbebani administrasi, tenaga kesehatan dengan energi emosional yang terkuras, pekerja swasta yang terus mengejar target, hingga pekerja kreatif yang kehilangan rasa ketika kreativitas berubah menjadi rutinitas. Semuanya tetap bekerja, tetapi batin tidak sepenuhnya hadir.
Di lingkungan ASN, kita melihat orang-orang bekerja dengan kesungguhan sambil berusaha menemukan ritme di tengah prosedur yang terus bergerak. Ini bukan soal salah siapa, melainkan tentang bagaimana perubahan datang lebih cepat daripada ruang untuk memaknainya. Kita semua mencoba menjaga pelayanan publik tetap hidup meski langkahnya terasa berat.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa work engagement memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai (Triani et al., 2025). Temuan seperti itu mengingatkan kita bahwa keterlibatan bukan sekadar urusan rasa, melainkan berpengaruh langsung pada kualitas layanan.
Fenomena seperti itu tentu menjadi perhatian di tingkat kebijakan, terutama bagi Kementerian PAN-RB yang memegang amanah reformasi birokrasi dan manajemen ASN. Ketika keterlibatan melemah, pelayanan publik ikut meredup, dan kepercayaan masyarakat ikut terpengaruh.
Karena itu, perhatian pada sisi manusia menjadi penting: kejelasan peran, penghargaan yang tulus, dan ruang partisipatif bagi pegawai untuk merasa memiliki arah bersama.
Sejumlah kebijakan sudah bergerak ke sana –fleksibilitas kerja dalam Permen PAN-RB Nomor 4 Tahun 2025, manajemen kinerja berbasis dialog dalam Permen PAN-RB Nomor 6 Tahun 2022, serta perlindungan psikologis dalam regulasi K3.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: