Gereja-Gereja Simbol Toleransi di Surabaya (1): Enam Rumah Ibadah, Satu Napas

Gereja-Gereja Simbol Toleransi di Surabaya (1): Enam Rumah Ibadah, Satu Napas

GKI Wiyung Royal Residence berdiri berjejer dengan Pura Sakti Raden Wijaya-Tirtha Nirwana Sidik-Harian Disway

Sukacita Natal layak dinikmati semua orang. Seperti di kawasan Royal Residence Surabaya, tempat enam rumah ibadah berdampingan dalam harmoni: Masjid Muhajirin, GKI Wiyung, Kapel Yustinus, Pura Sakti Raden Wijaya, Vihara Buddhayana, dan Kelenteng Ba De Miao.

GAGASAN toleransi di Royal Residence lahir bukan dari momen besar. Bukan dari seminar kebangsaan. Bukan juga dari tragedi. Namun, dari kebutuhan sehari-hari. Yakni, berawal dari warga muslim yang ingin menunaikan salat yang dekat dengan rumah.

Nah, dari situ muncul diskusi soal pemanfaatan fasilitas umum. Muncul kesadaran kolektif. Semua warga dari enam agama membutuhkan ruang ibadah. ”Awalnya bercanda, lalu jadi serius,” kenang Sekretaris Forum Komunikasi Antar Rumah Ibadah (FKRI) Royal Residence Surabaya Henry Oktavianus kepada Harian Disway, Kamis, 18 Desember 2025.

Sejak resmi berdiri pada 2019, kompleks tersebut menjadi semacam laboratorium toleransi hidup. FKRI pun terbentuk sebagai wadah koordinasi. Di sanalah toleransi tidak menjadi hal yang abstrak. Ia diwujudkan dalam hal konkret.

Hingga akhirnya, muncul rasa tenggang rasa antarumat beragama di kawasan tersebut. Misalnya, saat Idulfitri, Natal, atau Nyepi, mereka mengatur parkir bersama. Memastikan umat dari semua agama bisa beribadah dengan nyaman.

BACA JUGA:Menag Nasaruddin Hadiri Natal 2025 di Manado, Tegaskan Pesan Solidaritas dan Toleransi Beragama

BACA JUGA:Krisis Iklim Ancam Hidangan Natal di Berbagai Negara, Kalkun hingga Kayu Manis Kian Langka dan Mahal

Di grup WhatsApp warga, penjual makanan wajib mencantumkan label halal atau nonhalal. Bukan karena takut dikritik, melainkan karena menghormati keyakinan sesama. ”Itu penghormatan kecil yang sarat makna. Karena toleransi itu dimulai dari hal nyata yang dilakukan sehari-hari,” sambung Henry. 

Puncak toleransi ada di tradisi malam tirakatan. Tepatnya, setiap 16 Agustus. Ya, malam menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia. Di sana warga menginisiasi acara sederhana. Doa syukur bergiliran dari enam keyakinan. 


Pendeta Sutrisno (kiri) saat memimpin ibadah sebelum perayaan natal di GKI Wiyung Royal Residence, Minggu, 21 Desember 2025-Tirtha Nirwana Sidik-Harian Disway

”Itu murni inisiatif warga. Kami hanya mengutus wakil untuk berdoa,” jelas Pendeta Sutrisno, pemuka agama GKI Wiyung Royal Residence, saat ditemui Harian Disway, Minggu, 21 Desember 2025.

Lokasi acara bergilir setiap tahun. Kadang di depan masjid, kadang di depan gereja Katolik, atau di halaman pura. Dulu acara itu dimeriahkan dengan angklung yang dimainkan bersama oleh perwakilan semua agama.

”Kami ingin menghidupkan lagi tradisi itu. Tapi, butuh waktu. Karena kami memulai lagi setelah sempat berhenti akibat pandemi,” sambung pendeta berusia 58 tahun tersebut.

 Di GKI Wiyung, pendekatan tersebut bahkan masuk ke dalam proses pembinaan iman. Sejak tiga tahun terakhir, program katekese (persiapan baptis dewasa) tidak melulu membahas Alkitab.

BACA JUGA:Natal sebagai Simbol Kemanusiaan dan Kasih Universal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: