Aktivitas Pendidikan di Aceh, Sumut, dan Sumbar ditarget Mulai Berjalan Januari 2026, Pemulihan Dikebut

Aktivitas Pendidikan di Aceh, Sumut, dan Sumbar ditarget Mulai Berjalan Januari 2026, Pemulihan Dikebut

Personel gabungan dari Kodim 0104/ Aceh Timur gotong royong membersihkan Sekolah Dasar Negeri 2 Kota Langsa, Kota Langsa, Provinsi Aceh-BNPB-

HARIAN DISWAY -  Pemerintah menargetkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di wilayah terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sudah bisa berlangsung pada pekan pertama di bulan Januari 2026. 

Saat ini, satgas gabungan tanggap darurat terus melakukan pemulihan dan revitalisasi gedung-gedung sekolah dan sarana prasarana pendidikan lain yang terdampak. Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno mengungkapkan bahwa saat ini sudah 65 persen sekolah yang telah siap untuk beroperasi setelah dilakukan revitalisasi dan pembersihan. 

Pada awal Desember lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sempat mendata bahwa ada total 1009 unit sekolah yang terdampak banjir dan longsor. Pemulihan dibantu oleh relawan dan prajurit TNI. 

Kementerian Agama Kabupaten Bireuen juga bekerja keras untuk melakukan pemulihan (recovery) dan persiapan KBM pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut. Targetnya, KBM bisa berjalan normal setidaknya pada 5 Januari 2025. 

BACA JUGA:MBG Selama Liburan: 3B Tetap Jalan, Anak Sekolah Tanpa Paksaan

Kepala Kantor Kementerian Agama Bireuen, Zulkifli, menyampaikan bahwa saat ini fokus utama pihaknya adalah pembersihan lingkungan madrasah dari tumpukan lumpur yang masih menutupi area sekolah. "Kami datangkan excavator dan alat berat lainnya untuk mempercepat proses pembersihan. Ini adalah prioritas kami agar anak-anak bisa kembali belajar dengan kondisi yang layak," ungkap Zulkifli di Bireuen, Sabtu, 27 Desember 2025. 


Personel gabungan dari Kodim 0104/ Aceh Timur gotong royong membersihkan Sekolah Dasar Negeri 2 Kota Langsa, Provinsi Aceh-BNPB-

Kemenag Bireuen mencatat sebanyak 55 madrasah mengalami kerusakan akibat banjir dan tanah longsor. Hampir seluruh mebeler atau perabotan sekolah di madrasah-madrasah tersebut mengalami kerusakan parah akibat terendam lumpur dan air.

"Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Kursi, meja belajar, lemari, dan berbagai peralatan pendukung KBM rusak berat. Belum lagi para siswa yang kehilangan perlengkapan sekolah mereka," tambah Zulkifli.

BACA JUGA:3.274 Sekolah Rusak Akibat Bencana Sumatra


Kantor Kemenag Kabupaten Bireuen mendatangkan excavator untuk membersihkan gedung madrasah-Kemenag Kab. Bireuen-

Meski dihadapkan pada tantangan besar, Kemenag Bireuen tidak kehilangan semangat. Tim gabungan dari berbagai bidang terus bekerja keras melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan proses recovery berjalan optimal. Pembersihan lingkungan sekolah menjadi tahap pertama yang harus diselesaikan sebelum dilakukan perbaikan infrastruktur dan pengadaan peralatan pembelajaran.

Kepala Subdirektorat Peningkatan Kapasitas, Pelindungan, dan Pengendalian Direktorat Guru Pendidikan Dasar Kemendikdasme Meliyanti menyampaikan bahwa pemulihan pascabencana harus menempatkan peserta didik sebagai pusat perhatian. Pengalaman dari berbagai daerah menunjukkan bahwa guru merupakan garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan pembelajaran di masa pascabencana.

“Guru dan tenaga kependidikan memiliki peran strategis dalam memastikan proses pemulihan pascabencana berjalan berpihak pada kebutuhan peserta didik. Pemulihan tidak hanya soal keberlanjutan pembelajaran, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan dukungan psikososial di satuan pendidikan,” ujar Meliyanti.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: