Pelajaran dari Pesantrean Bima KH Imam Jazuli: Walisantri Tidak Harus Sama Pilihan Politiknya
Muh. Husain Sanusi-Foto: Dokumentasi Pribadi-
Suatu ketika, dalam sebuah kesempatan yang tenang namun penuh beban pikiran, saya memberanikan diri bertanya langsung kepada KH Imam Jazuli. Sebuah pertanyaan yang mungkin mewakili kegelisahan banyak orang yang mencintai beliau:
"Kiai, tidakkah panjenengan khawatir ketokohan panjenengan akan luntur akibat kritik-kritik tajam yang selalu update panjenengan sampaikan melalui media sosial? Apakah panjenengan tidak merasa takut jika Pesantren Bina Insan Mulia akan ditinggalkan santri dan walisantri hanya karena kevokalan panjenengan di ruang publik?"
Mendengar itu, beliau tidak menunjukkan gurat kecemasan.
Sebaliknya, dengan ketenangan seorang pejuang yang sudah meyakini dirinya untuk memegang sebuah prinsip, beliau memberikan jawaban yang melampaui logika pragmatis.
BACA JUGA:Di Pesantren Lirboyo, NU Melangkah Elegan Menuju Penyelesaian
BACA JUGA:Mitigasi Gesekan Sosial Jelang Perayaan Agama
Bagi KH Imam Jazuli, keberadaan santri dan besarnya pesantren bukanlah alat tawar politik, melainkan amanah pendidikan yang harus dijaga kesuciannya dari kepentingan sektarian.
Dari sinilah, sebuah pelajaran besar tentang pendidikan politik bermula.
Pesantren Bima: Kokoh di Atas Kualitas, Melampaui Isu Politik
Para walisantri Bina Insan Mulia (Bima) tidak perlu merasa khawatir atau ragu terhadap pernyataan-pernyataan vokal KH Imam Jazuli di media sosial.
Dinamika pemikiran beliau di ruang publik sama sekali tidak mereduksi apalagi mengganggu stabilitas operasional pesantren.
Justru, sikap kritis beliau adalah cerminan dari kecerdasan intelektual yang juga ditanamkan dalam kurikulum pesantren.
Hingga saat ini, Bima tetap tegak berdiri sebagai pesantren favorit yang unggul secara kompetitif.
Fokus utama lembaga ini tetap konsisten pada kualitas pengajaran dan prestasi akademik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: