Nilai Rata-rata Matematika Siswa di Jatim Jeblok, Ini Kata Dewan Pendidikan
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA 2025 menuai sorotan setelah nilai rerata siswa di sejumlah daerah dinilai masih rendah.--Kemendikdasmen
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA SMK sederajat di Jatim belum bisa dikatakan memuaskan.
Hal tersebut lantaran banyak nilai siswa jeblok di beberapa mata pelajaran tertentu. Misalnya pelajaran matematika. Nilai rata-rata siswa di Jatim mencapai 36,77. Sementara untuk pelajaran Bahasa Inggris hanya 25,35.
Sementara dari persentase siswa, untuk pelajaran matematika, Kemendikdasmen mencatat sebanyak 41,6 persen siswa yang ikut TKA di Jatim memiliki nilai kurang. Sementara yang mempunyai kemampuan memadai sebesar 35,1 persen, kategori baik 21,2 persen, dan istimewa hanya 2,1 persen.
Ketua Dewan Pendidikan Jatim (DPJ) Prof Dr Warsono mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan nilai TKA siswa di Jatim belum memuaskan. Di antaranya masalah kompetensi guru, lingkungan sekolah, juga motivasi siswa.
BACA JUGA:Tes Kemampuan Akademik (TKA): Langkah Progresif Menuju Pendidikan yang Inklusif dan Berkeadilan
Warsono menilai, selama ini guru cenderung mengajar dengan fokus menghabiskan materi. ”Bukan mengajarkan bagaimana cara berpikir secara scientific atau berpikir tingkat tinggi (higher order thinking),” katanya.
Guru kurang memberi stimulasi anak untuk mengembangkan kemampuan bertanya secara kritis sampai kepada pertanyaan: mengapa dan bagaimana, atau apa esensinya ?.
Padahal, bertanya merupakan indikator berpikir. Jika anak-anak tidak dilatih berpikir analitis dan prediktif, mereka akan gagap jika dihadapkan kepada soal-soal yang berkaitan dengan prediksi, analisis tingkat tinggi. Seperti jenis soal yang banyak diujikan dalam TKA.
BACA JUGA:Simulasi Tes Kemampuan Akademik Dimulai Pekan Ini, Ujian Nasional Resmi Dihapus Mulai 2025
Faktor lainnya adalah lingkungan sekolah. Warsono menyebut, faktor ini juga menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar lebih baik. Sekolah-sekolah yang memiliki budaya belajar akan mendorong siswa untuk belajar, tetapi jika lingkungan sekolah kurang memberi motivasi untuk belajar, siswa juga kurang termotivasi.
Sebagai contoh sekolah-sekolah yang telah memiliki sejarah prestasi dan jejaring alumni yang kuat dan hebat. Siswa di lingkungan itu akan cenderung lebih termotivasi. ”Untuk itu, mulai sekarang sekolah harus mendorong siswa untuk menjadi orang orang hebat di negeri ini,” paparnya.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai berjanji akan ada evaluasi dan tindak lanjut atas hasil TKA ini. Khususnya pada mata pelajaran yang nilainya masih kurang maksimal.
Dindik akan meningkatkan soal analisis terutama soal-soal HOTS yang berbasis numerasi dan literasi di sekolah. Khususnya dengan penekanan pada penalaran dan pemecahan masalah. ”Kami juga akan melakukan penguatan kompetensi guru untuk mendorong peningkatan kapasitas guru dalam mengembangkan penilaian yang berkualitas,” katanya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: