Gagal di Timur Tengah, AS Bidik Amerika Latin

Gagal di Timur Tengah, AS Bidik Amerika Latin

ILUSTRASI Gagal di Timur Tengah, AS Bidik Amerika Latin.-Arya-Harian Disway-

PENANGKAPAN MADURO

Lupakan justifikasi pemerintah AS mengapa menyerang Venezuela dan menangkap Nicolas Maduro. 

Setidaknya ada dua latar belakang yang menjadi alasan invansi militer AS ke Venezuela. 

Pertama, perdagangan narkotika lintas negara. Maduro ditangkap bukan karena banyak warga AS yang menjadi korban dari drug trafficking dan AS adalah pasar besar narkotika dari negara-negara Amerika Latin. 

Jika itu yang menjadi alasan, Meksiko, Kolombia, Peru, Bolivia, dan beberapa negara lain juga menjadi pusat produksi narkotika. 

BACA JUGA:Serang Caracas, Donald Trump Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro

BACA JUGA:Pasca Serangan AS, Venezuela Umumkan Pengerahan Semua Kekuatan Militer

Ada cuplikan scene menarik dari film Narcos. Ketika seorang wartawati AS mewawancarai Pablo Escobar, gembong narkoba dari Kolombia. 

Si wartawati bertanya, apakah Escobar diburu DEA (Dryg Enforcement Administration) atau Badan Antinarkotika AS karena banyak meneyelundupkan narkotika dan merusak kesehatan dan mental warga negara tersebut? Escobar tertawa.

”Jika itu alasannya, mafia Cicilia lebih layak diburu daripada saya. AS tidak peduli dengan narkotika yang masuk ke negaranya. Mereka hanya peduli apakah uang hasil perdagangan obat itu tetap beredar di AS. Saya diburu karena saya membawa kembali uang itu ke Kolombia,” ungkap Escobar.

Kedua, Maduro ditangkap karena Trump ingin mengembalikan reputasi di mata rakyat AS. Apalagi, setelah kampanye militer di Timur Tengah gagal total. Gaza gagal dikuasai Israel, Iran tak bisa ditaklukkan, dan pengganti Bashar Al-Asad di Suriah yang tidak sesuai harapan Gedung Putih adalah rangkaian kegagalan kampanye militer AS (melalui tangan Israel) di Timur Tengah. 

Trump ingin mengembalikan nama baiknya di dalam negeri dan kali ini membidik Amerika Latin. Mengapa Maduro? Mungkin, jika dibandingkan dengan presiden lainnya di Amerika Latin, Maduro yang paling tidak bisa diatur dan dikendalikan AS. 

Kalau kata orang Madura, Maduro itu kardiman (karepa dibik man-menyaman) alias semau dan seenaknya sendiri. (*)

*) Tofan Mahdi adalah alumnus Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Jakarta. Penulis buku Pena di Atas Langit.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: