Data Pribadi 17,5 Juta Pengguna Instagram Bocor di Dark Web, Risiko Penipuan Mengintai

Data Pribadi 17,5 Juta Pengguna Instagram Bocor di Dark Web, Risiko Penipuan Mengintai

Malwarebytes mengonfirmasi adanya kebocoran 17,5 juta data pengguna Instagram dari berbagai negara.--iam-out

Informasi semacam itu dinilai cukup untuk dimanfaatkan pelaku kejahatan siber dalam berbagai skema penipuan.

“Walaupun kata sandi tidak termasuk dalam kumpulan data yang bocor, informasi yang tersedia sudah cukup untuk memungkinkan berbagai bentuk penyalahgunaan,” tulis Malwarebytes dalam laporannya.

Dengan data tersebut, pelaku dapat melakukan upaya penyamaran (impersonation), mengirim pesan phishing yang meyakinkan, hingga menyalahgunakan proses pemulihan akun (account recovery).

BACA JUGA:Elon Musk Batasi Grok AI: Pembuatan Gambar Kini Eksklusif untuk Pelanggan Premium

BACA JUGA:Komdigi Blokir Grok AI di Platform X, Dinilai Berisiko Sebarkan Pornografi Deepfake

Salah satu skenario yang dikhawatirkan adalah penjahat siber memicu permintaan reset kata sandi.

Itu merupakan cara untuk mengambil alih akun korban dengan memanfaatkan data kontak yang sudah bocor.

Diduga Berasal dari Insiden API Instagram

Malwarebytes menduga kebocoran data itu berkaitan dengan insiden antarmuka pemrograman aplikasi (API) Instagram yang terjadi pada 2024.

Pada 7 Januari 2026, seorang pengguna forum peretas dengan nama samaran “Solonik” mengunggah dataset tersebut di BreachForums. Lalu menawarkannya secara cuma-cuma.

BACA JUGA:Marak Manipulasi Konten Asusila, Komdigi Ancam Blokir Grok AI dan X Jika Tak Patuh Aturan

BACA JUGA:Elon Musk Luncurkan Grokipedia, Tantang Wikipedia dan Ubah Arah Pencarian Internet

Unggahan itu mengklaim berisi lebih dari 17 juta data pengguna Instagram dalam format JSON dan TXT, yang mencakup akun-akun dari berbagai negara.

Beberapa contoh file yang dibagikan secara daring menampilkan informasi seperti username, alamat email, nomor telepon, ID pengguna, serta detail profil lainnya.

Malwarebytes menyatakan struktur data tersebut sesuai dengan temuan mereka. Bentuk rekaman datanya menyerupai respons otomatis sistem. 

Hal itu mengindikasikan bahwa data kemungkinan dikumpulkan melalui teknik scraping, celah antarmuka yang terekspos, atau kesalahan konfigurasi sistem.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: hindustantimes.com