Wali Kota Parkir

Wali Kota Parkir

ILUSTRASI Wali Kota Parkir.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Pasar tumpah umumnya selalu ada ”lurah”-nya. Mereka yang ”mengelola” pasar itu. Dari pengelolaan tersebut, ”lurah pasar” mendapatkan uang dari pedagang. Mulai kapling tempat, sewa lapak, biaya penerangan, sampai biaya keamanan.

Pasar tumpah Jagir Wonokromo bisa tuntas karena tak menghilangkan peran ”lurah pasar”. Pemerintah mencarikan lokasi pengganti dengan pendekatan sewa ke pemilik lahannya. Pasar tetap jalan, ”lurah pasar” tak kehilangan peran dan pendapatan.

Nah, akankah urusan parkir liar ini bisa menjadi legasi wali kota yang sekarang? Tentu kita semua berharap demikian. Tidak hanya menuntaskan urusan parkir Gacoan, tetapi juga parkir liar di seluruh wilayah kota.

Digitalisasi bisa menjadi pintu masuk. Bukan untuk menyingkirkan manusia. Tapi, merapikan relasi. Kalau itu bisa dilakukan, parkir tak lagi jadi sumber gaduh. Dari parkir melahirkan warisan baru pemimpinnya.

Dulu pernah ada wali kota got karena bisa mengatasi banjir. Wali kota paving dan pasar karena program pavingisasi jalan kampung dan menertibkan pasar. Juga, wali kota taman karena memperindah Kota Surabaya.

Melalui penataan parkir, kelak bisa lahir julukan baru ”Wali Kota Parkir”. Lewat penataan parkir liar, sekaligus berharap agar Surabaya bisa naik kelas. Menjadi kota yang tertib, adil, dan tetap manusiawi.

Ayo, Pak Wali! Gasss terus…. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: