Ekonomi Global Cemas, Eskalasi AS-Iran Bikin Harga Minyak Naik
DEMONSTRAN DI LONDON memprotes rezim Iran yang dituding membantai warganya.-AFP UGC-
YA, harga minyak merayap naik. Pasar saham dunia bergerak ke arah yang berbeda-beda, Selasa, 13 Januari 2026. Sumber kepanikan datang dari hal yang sama: Amerika Serikat (AS) kembali menekan Iran lewat jalur ekonomi dan ancaman militer.
Investor membaca situasi itu sebagai potensi eskalasi yang bisa mengganggu rantai pasok energi global. Dalam ekonomi yang masih sensitif terhadap inflasi, itu kabar buruk.
Di lantai bursa, Eropa dan Asia tidak kompak. Tokyo ditutup di rekor tertinggi, sementara Paris dan Frankfurt melemah di pertengahan sesi. London stagnan. Wall Street sehari sebelumnya justru mencetak rekor baru, meski ada tudingan soal penyelidikan kriminal terhadap Federal Reserve (The Fed).
Namun, di balik semua data pasar yang bertubrukan itu, ada satu variabel yang tetap bermain. Yakni, Iran.
BACA JUGA:Trump Segera Berlakukan Tarif 25% Bagi Setiap Negara yang Berbisnis Dengan Iran
BACA JUGA:500 Orang Tewas Dalam Gelombang Protes di Iran, Trump Pertimbangkan Intervensi Militer
Selain faktor Iran, para pelaku pasar menunggu data inflasi AS yang diyakini menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga. Kathleen Brooks, direktur riset XTB, mengingatkan bahwa data tersebut adalah alat ukur terpenting bagi The Fed.
’’Data itu akan menentukan ekspektasi inflasi. Juga jadi indikator tentang hal yang harus dilakukan The Fed tahun ini, dan berapa banyak pemotongan suku bunganya,’’ kata Brooks.
Dan pasar makin sensitif karena Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan tarif 25 persen bagi negara mana pun yang berdagang dengan Iran. Pengenaan tarif itu otomatis menambah tekanan terhadap Teheran yang tengah dihantam gelombang protes besar di dalam negeri.
Trump menyatakan tarif baru itu akan “segera” menarget negara-negara mitra dagang Iran yang juga berbisnis dengan AS.

INDEKS SAHAM tampak pada angka-angka di Bursa Saham Nikkei, Tokyo, 13 Januari 2026. Sentimen pasar dalam negeri Jepang masih positif.-AFP UGC-
Bagi pasar, langkah AS itu bukan hanya geopolitik. Tapi ekonomi. Minyak mentah adalah komoditas yang langsung bereaksi pada krisis itu. Victoria Scholar, kepala investasi Interactive Investor, mengingatkan bahwa tarif itu kemungkinan akan menghantam mitra dagang terbesar AS, yakni Tiongkok. Pasar global pun kian khawatir.
Di Asia, euforia politik dalam negeri Jepang sempat menutup sentimen negatif tersebut. Nikkei ditutup menguat 3,1 persen. Sebab, ada spekulasi bahwa PM Sanae Takaichi akan memanfaatkan popularitasnya dengan menyerukan pemilu cepat.
Bursa Hong Kong juga menguat. Sedangkan Shanghai melemah. Seoul naik 1,5 persen setelah SK hynix mengumumkan investasi besar senilai 19 triliun won untuk fasilitas chip yang mengikuti ledakan industri AI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: