Tiga Mahasiswa DKV Undika Sulap Limbah Kopi Jadi Bio Leather
Mahasiswa DKV Universitas Dinamika Surabaya mengolah limbah ampas kopi menjadi bio leather ramah lingkungan bernama Biofee.-Humas Unika-
HARIAN DISWAY - Tiga mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Dinamika (Undika) Surabaya menghadirkan inovasi Biofee, bio leather berbahan limbah ampas kopi yang diaplikasikan menjadi produk fungsional ramah lingkungan, Selasa, 15 Januari 2026.
Inovasi ini digagas oleh tim PBG Idea yang terdiri dari Tegar Prasetiyo, Haekal Rahmami Loka Jaya, dan Mochammad Rizki Ramadhan sebagai bentuk keberanian keluar dari zona nyaman dan kepedulian terhadap isu lingkungan melalui pendekatan desain berkelanjutan.
Biofee dirancang sebagai alternatif material bio leather yang lahir dari realitas sehari-hari, khususnya budaya minum kopi yang kian berkembang. Limbah ampas kopi yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai diolah kembali menjadi material baru yang memiliki fungsi sekaligus nilai estetika.
“Kami melihat ampas kopi sering kali terbuang begitu saja, padahal potensinya besar jika diolah dengan pendekatan desain,” ujar Tegar Prasetiyo.
BACA JUGA:Undika Luncurkan Flanatomy: Puzzle 3D, Media Belajar Berbasis AR untuk Anak Berkebutuhan Khusus
BACA JUGA:UNDIKA Rancang Teknologi Budikdamber Ikan Lele Berbasis IoT, Bikin Budi Daya Makin Efisien
Menariknya, Biofee menjadi proyek pertama PBG Idea yang mengusung konsep sustainable design. Sebelumnya, ketiga mahasiswa tersebut lebih dikenal melalui karya kreatif seperti board game dan puzzle tiga dimensi. Peralihan fokus ini menjadi tantangan tersendiri karena mereka belum pernah menempuh mata kuliah sustainable design secara formal.
“Kami ingin mencoba sesuatu yang benar-benar baru dan lebih menantang dari yang biasa kami kerjakan,” kata Tegar.

TIGA Mahasiswa DKV Undika di balik Karya 'Biofee'.-Humas Undika-
Pemilihan ampas kopi sebagai bahan utama didasarkan pada hasil riset yang menunjukkan Indonesia sebagai salah satu produsen dan konsumen kopi terbesar di dunia. Pertumbuhan kedai kopi yang pesat, termasuk di Surabaya, menghasilkan limbah ampas kopi dalam jumlah besar dengan pemanfaatan yang masih terbatas.
“Di luar negeri, bio leather dari jamur, nanas, dan kaktus sudah berkembang. Kami melihat peluang bio leather berbasis kopi yang masih jarang dieksplorasi di Indonesia,” tutur Haekal Rahmami Loka Jaya.
BACA JUGA:Undika Kompetisikan Teknologi Ketahanan Pangan dan Pertanian dalam FITCOM 3.0 Smart Farm
BACA JUGA:Produk UMKM Binaan Ubaya dan Undika Tembus Pasar Malaysia-Amerika Serikat
Pengembangan Biofee dilakukan secara home-based sejak November 2025 dengan peralatan sederhana. Ampas kopi dikeringkan, diolah menjadi lembaran bio leather, kemudian diaplikasikan ke produk seperti dompet, lanyard, dan strap jam tangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: