Tantangan Pengelolaan Sampah Surabaya, Pakar Sebut TPS 3R Harus Sampai Kelurahan

Tantangan Pengelolaan Sampah Surabaya, Pakar Sebut TPS 3R Harus Sampai Kelurahan

Tampak atas TPA Benowo, Surabaya.-Boy Slamet-Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - SURABAYA kian membuktikan komitmennya dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Melalui 27 rumah kompos yang tersebar di berbagai wilayah, Pemerintah Kota (Pemkot) berhasil menghemat anggaran hingga Rp14 miliar per tahun.

Itu terdiri dari Rp6,73 miliar dari penghematan biaya angkut dan Rp7,36 miliar dari efisiensi operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.

Dengan timbulan sampah harian mencapai 1.800 ton, strategi dari hulu menjadi kunci. "Kami tidak bisa lagi hanya menangani sampah di hilir,"  Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, kata Dedik Irianto. 

Setiap hari, rumah kompos mengolah 95,17 ton sampah organik. Terutama dari limbah perantingan pohon, pohon tumbang, dan pasar tradisional.

BACA JUGA:ITS Gagas Solusi Adaptif Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Kawasan, Pernah Raih Juara INOVBOYO 2025

BACA JUGA:Tempat Sampah Pintar Edukatif, Inovasi Siswa SMAN 5 Surabaya yang Raih Medali Emas di I2ASPO 2025

Hasilnya, kompos berkualitas yang langsung digunakan untuk merawat ruang terbuka hijau (RTH) di seluruh kota, menggantikan pupuk kimia impor. "Kompos kita manfaatkan sendiri. Sampah berkurang, belanja pupuk juga turun,” ujarnya.

Namun, di balik capaian tersebut, ada tantangan yang masih menghambat transformasi nasional. Pakar lingkungan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Eddy Setiadi Sujono, membeberkan penjelasan kritisnya.

Ia menekankan sampah harus dikelola seperti air minum. Sebagai infrastruktur dasar perkotaan. "Air minum diurus karena dianggap vital. Tapi, kenapa sampah tidak? Padahal manusia dan sampah tak bisa dipisahkan. Hidup tanpa sampah itu mustahil," tegasnya.


Pengolahan Sampah Kompos oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya-Pemkot Surabaya-

Ia mengkritik solusi instan seperti pembakaran sampah melalui teknologi oksidasi, alias pembakaran sampah.

"Pembakaran menghabiskan oksigen yang seharusnya kita hirup, menurunkan kualitas udara, dan menambah gas rumah kaca. Jangan sampai keputusan 'praktis' justru merusak lingkungan," terangnya.

Solusi jangka panjang, menurut Eddy, hanya mungkin jika pemilahan dimulai dari rumah tangga. Bukan hanya di sekolah atau tempat umum.

Idealnya, setiap kelurahan memiliki TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle), sesuai amanat regulasi bahwa fasilitas itu harus sedekat mungkin dengan sumber sampah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: