Maknai Isra’ Mikraj, Khofifah Tekankan Disiplin dan Kebersamaan
ilustrasi-Humas Pemprov Jawa Timur -
Ketakwaan juga menuntut kepedulian sosial, terutama terhadap mereka yang berada dalam kondisi rentan. “ Hubungan dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab kita terhadap manusia. Ketakwaan harus berdampak pada kepekaan sosial,” tegasnyi.
BACA JUGA:Isra Mikraj: Mengungkap Makna dalam Kehidupan Modern Indonesia
Khofifah menyoroti pesan saling menghargai yang terkandung dalam peristiwa Isra’ Mikraj. Menurutnya, perbedaan tingkat pemahaman dan keimanan adalah keniscayaan.
Karena itu, yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan, bukan penghakiman. “Saling menghargai adalah penyangga utama persatuan. Ketika nilai ini hilang, perbedaan kecil bisa berubah menjadi konflik besar,” katanyi.
Tak kalah penting, Isra’ Mikraj juga mengajarkan nilai kebersamaan. Praktik salat berjamaah mencerminkan persatuan dan kesetaraan, di mana tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, maupun latar belakang.
“Dalam shaf salat, semua berdiri sejajar. Ini pesan kuat bahwa kebersamaan bukan berarti menyeragamkan, tetapi menyatukan langkah untuk tujuan yang lebih besar,” ujar Khofifah.
BACA JUGA:Khofifah Jajal Bus TransJatim Koridor Gresik–Mojokerto, Ajak Warga Manfaatkan Angkutan Publik
Dia menilai, pesan kebersamaan ini sangat relevan di tengah masyarakat yang kerap terpolarisasi oleh perbedaan pandangan, baik politik, sosial, maupun keagamaan.
Semangat kebersamaan juga mendorong lahirnya solidaritas dan kepedulian sosial.
Khofifah berharap, peringatan Isra’ Mikraj dapat menjadi momentum refleksi bersama, agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan, tetapi benar-benar dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Disiplin dalam ibadah, kedewasaan dalam beriman, ketakwaan dalam bersikap, saling menghargai, dan kebersamaan adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadaban,” pungkasnyi.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: