Longsor di Jepara, Akses Menuju Desa Tempur Kecamatan Keling Tertutup Material Longsor
Bencana banjir dan tanah longsor melanda Desa Tempur, Kecamatan Keling yang terletak di kaki Gunung Muria dan masuk wilayah Kabupaten Jepara-BNPB-
HARIAN DISWAY - Bencana tanah longsor yang menerjang Kabupaten Jepara pada 9 Januari 2026 lalu hingga kini masih menyisakan dampak serius bagi warga. Berdasarkan pantauan terbaru di lapangan pada Jumat, 16 Januari 2026, akses utama menuju Desa Tempur, Kecamatan Keling, masih tertutup timbunan material longsor yang cukup masif.
Peristiwa ini merupakan bagian dan bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Muria Raya, meliputi Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati. Banjir yang terjadi pekan lalu tersebut melanda sedikitnya empat desa di tiga kecamatan di wilayah Jepara. Selain menutup akses jalan, bencana ini mengakibatkan kerusakan rumah tinggal serta memutus mobilitas ekonomi ribuan warga.
Di Desa Tempur sendiri, terdapat 13 kepala keluarga (KK) yang kehilangan tempat tinggal dan kini sangat bergantung pada bantuan darurat.
Kondisi geografis yang sulit membuat pembersihan material longsor memerlukan penanganan intensif. Meski alat berat sudah dikerahkan, keberadaan jembatan yang rusak dan tertimbun tanah masih menjadi kendala utama bagi sekitar 3.500 jiwa yang terdampak agar bisa beraktivitas normal, termasuk akses bagi anak-anak sekolah.
BACA JUGA:Banjir Rendam Pati, Jepara, dan Kudus, Ribuan Rumah Terdampak
Pemerintah daerah saat ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar non-pangan bagi para pengungsi, seperti pakaian, selimut, dan obat-obatan, guna mencegah munculnya penyakit di tenda pengungsian.

Kondisi rumah yang rusak akibat banjir dan tanah longsor di di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara-BNPB-
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah keselamatan dan kebutuhan manusia.
"Khusus di titik ini dulu, saya ingin menyampaikan yang pertama harus dilakukan penanganan yang maksimal adalah manusianya, orangnya," ujar Suharyanto saat memimpin rapat koordinasi di Desa Tempur, Jumat, 16 Januari 2026.
BACA JUGA:Menkeu Kembalikan Dana Efisiensi Rp1,6 Triliun untuk Pemulihan Banjir Aceh
Suharyanto menambahkan bahwa BNPB siap memfasilitasi relokasi bagi warga yang rumahnya hancur. "Pemerintah daerah menyediakan lokasinya dan rumahnya dibantu BNPB. Jadi jangan berpikir kalau namanya BNPB itu bangun yang banyak-banyak. Tidak, satu dua rumah juga tidak apa-apa. Yang penting itu masyarakat," imbuhnya.

Kepala BNPB meninjau meninjau lokasi terdampak bencana hidrometeorologi di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara-BNPB-
Terkait logistik, ia meminta Pemkab Jepara tidak ragu mengajukan anggaran tambahan jika dana Belanja Tidak Terduga (BTT) daerah tidak mencukupi. Ia juga menekankan pentingnya percepatan pembukaan jalan. "Tunjukkan kepada rakyat bahwa pemerintah hadir. Tidak ada alasan. Apalagi di sana ada 3.500 jiwa, jangan terlalu lama (pembukaan aksesnya)," tegasnya.
Kehadiran Kepala BNPB di Jepara ini merupakan perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk belasungkawa dan komitmen pemerintah pusat. Setelah meninjau Jepara, rombongan dijadwalkan melanjutkan koordinasi ke Kabupaten Pati pada Sabtu, 17 Januari 2026, untuk memantau titik banjir dan longsor lainnya di wilayah Jawa Tengah.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: