Pengajian Virtual di Ruang Game Roblox
ILUSTRASI Pengajian Virtual di Ruang Game Roblox.-Arya/AI-Harian Disway-
Sejak lama, ilmu sastra dan budaya menegaskan bahwa medium tidak pernah netral. Sekecil apa pun perubahan akan selalu membawa konsekuensi terhadap penciptaan makna itu sendiri. Penyampaian ceramah dan pembacaan ayat Al-Qur’an dalam kajian luring tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda dengan penyampaian secara daring.
BACA JUGA:Memaksimalkan Potensi Diri melalui Dunia Virtual Roblox
BACA JUGA:Mengapa Roblox Berubah Jadi Media Sosial Ketimbang Platform Gaming?
Perbedaan tersebut bukan berarti menghilangkan makna dari kedua kajian tersebut, justru itu menjadi proses negosiasi budaya yang sedang berlangsung.
Fenomena kajian di Roblox itu berperan sebagai teks budaya digital. Di dalamnya tercipta simbol-simbol, praktik agama (halaqah, muroja’ah), dan performativitas.
Hal itu dapat dilihat pada avatar-avatar yang duduk mendengarkan ceramah, maps virtual yang menyerupai masjid, tanya jawab, penggunaan mikrofon hingga rules untuk tetap sopan santun walaupun secara online. Semua itu adalah bentuk representasi.
Jika ditinjau dari kajian budaya, sejalan dengan pemikiran Stuart Hall. Kehadiran simbol-simbol dalam kajian Roblox, tidak hanya merepresentasikan, tetapi juga membentuk realitas di dunia game.
BACA JUGA:Roblox Dorong Ekonomi Kreator Indonesia
BACA JUGA:Ini Cara Aktifkan Nutty Fever di Grow a Garden Roblox
Artinya, representasi itu lebih dari sekadar tiruan realitas, melainkan cara individu memaknai dan membingkai pengalaman mereka. Ketika tanda religius berpotensi berdiri sendiri sebagai tampilan yang tampak bermakna, rentan terpisah dari kedalaman refleksi spiritualnya.
Praktik kajian agama di Roblox itu juga mencerminkan konsep liturgi digital. Dalam ilmu budaya-agama, liturgi mengacu pada tata pelaksanaan ibadah yang mengandung nilai kesakralan.
Liturgi itu dimulai dari proses masuk ke game, mengostum avatar yang sopan dan tertutup, menuju ke maps tempat kajian, duduk dengan avatar lainnya sambil mendengarkan materi serta berdiskusi di kolom text chat.
Pada saat yang sama, suatu hal yang sakral bisa di-encode ke dalam ruang yang profan, bergantung pada niat dan kesepakatan bersama untuk menciptakan ruang virtual yang khidmat.
Bagi masyarakat global, praktik seperti itu lagi-lagi memperlihatkan proses penerjemahan agama ke dalam bahasa dan pengalaman digitalnya. Di tengah kehidupan yang serbainstan ini, ruang kajian virtual menghadirkan kebersamaan alternatif secara sosial-budaya meskipun tidak menggantikan peran kajian fisik. Dengan dukungan dari simbol yang serupa, rasa memiliki, dan keterhubungan bersama.
OTORITAS AGAMA DALAM KAJIAN VIRTUAL
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: