Pengajian Virtual di Ruang Game Roblox

Pengajian Virtual di Ruang Game Roblox

ILUSTRASI Pengajian Virtual di Ruang Game Roblox.-Arya/AI-Harian Disway-

Praktik yang berlangsung di ruang digital tersebut juga membuka persoalan serius mengenai kewenangan religius. Siapa yang berhak mengajar? Siapa yang menentukan kebenaran? 

Dalam konteks ini, otoritas kajian di Roblox tidak lagi bersifat hierarkis dan institusional, justru cair dan partisipatoris. 

Siapa pun yang memiliki latar belakang agama, sertifikasi, lulusan pondok persantren, serta kemampuan berkomunikasi di ruang digital berpotensi menjadi pengajar.  

Dilihat dari kacamata sastra, situasi itu menyerupai pergeseran dari narasi tunggal menuju narasi kolektif. Tidak ada lagi satu pihak yang sepenuhnya berkuasa atas makna. Pemahaman agama dinegosiasikan melalui obrolan, komentar, dan interaksi antar-avatar. 

Di sisi lain, itu membuka ruang yang lebih demokratisasi untuk berbagi pengetahuan keagamaan. Namun, di balik itu, mengandung risiko penyederhanaan, ketika agama mulai direduksi menjadi konten yang secara mudah dikonsumsi. 

Dalam konteks ini, figur ustaz atau ustazah yang menyampaikan ceramah di ruang digital akan mengalami pergeseran posisi. 

Otoritas keagamaan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang dilegitimasi oleh institusi formal atau sanad keilmuan yang jelas, melainkan dibangun melalui penguasaan teknis platform, kemampuan berkomunikasi, dan pengakuan latar belakang. 

Siapa yang mampu mengelola ruang, menjaga interaksi, dan dianggap kredibel oleh jamaah virtual, sering memperoleh legitimasi simbolis. Kewenangan hadir dari praktik dan simulasi di ruang digital, bukan hanya dari struktur hierarkis keagamaan yang sudah ada.

SIMULASI SPIRITUALITAS ATAS REALITAS

Fenomena ngaji di Roblox menantang asumsi lama bahwa globalisasi digital identik dengan sekularisasi. Kenyataannya, nilai spiritual tidak hilang. Justru mencari bentuk baru di dalam ruang-ruang yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. 

Platform game seperti Roblox menjadi arena tempat agama bernegosiasi dengan budaya populer dan konsumsi pengguna.

Penulis juga selaras dengan pemikiran Jean Baudrillard, yakni dunia digital memang penuh dengan simulasi yang terlihat bermakna, tetapi sering kali lepas dari realitas yang dirujuknya. 

Masyarakat sulit membedakan yang asli dan tiruan karena simbol dan tanda tampak lebih nyata daripada realitas. Akibatnya, ngaji virtual pun berubah menjadi simulakra, tampak religius di permukaan. 

Melihat fenomena itu, degradasi spiritual rasanya terlalu menyederhanakan persoalan yang ada. Di tengah simulasi itulah, kita dituntut untuk lebih melek menghadapi kemajuan teknologi digital, khususnya mampu membedakan antara kesakralan yang sekadar visual dan lahir dari proses reflektif. 

Ilmu sastra dan budaya membantu kita mengingatkan bahwa makna sepenuhnya tidak pernah benar-benar lenyap, hanya berpindah tempat dan perlu dipahami dengan cara yang serius.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: