Optimisme dan Kewaspadaan Ekonomi Tiongkok 2025,Tumbuh tapi Mepet

Optimisme dan Kewaspadaan Ekonomi Tiongkok 2025,Tumbuh tapi Mepet

SUASANA PAMERAN China International Import Expo (CIIE) di Shanghai, 7 November 2025. Ekonomi Tiongkok tertolong volume ekspor yang tinggi.-HECTOR RETAMAL-AFP-

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2025 tercatat sebagai salah satu yang paling lambat dalam beberapa dekade terakhir. Data resmi yang dirilis Senin, 19 Januari 2026, menunjukkan ekonomi negeri itu hanya tumbuh lima persen. Secara teknis, angka itu memenuhi target Beijing. Tapi, secara substantif, banyak hal yang harus diwaspadai.

TARGET “sekitar lima persen” memang tercapai. Namun, bagi banyak analis, target itu lebih menyerupai representasi ’’kenyamanan politik’’ ketimbang cerminan optimisme ekonomi.

Di balik angka tersebut, denyut konsumsi domestik masih lemah, sektor properti terus dibelit krisis utang, dan sentimen masyarakat belum pulih sepenuhnya.

Data Biro Statistik Nasional (NBS) bahkan memperlihatkan perlambatan tajam pada kuartal terakhir 2025. Pertumbuhan ekonomi Oktober–Desember hanya 4,5 persen. Sesuai ekspektasi pasar. Tetapi sekaligus menegaskan bahwa mesin ekonomi Tiongkok belum kembali ke putaran penuh.

BACA JUGA:Tiongkok Desak AS Hentikan Narasi 'Ancaman China' Sebagai Dalih Caplok Greenland

BACA JUGA:Tanghulu, Sejarah di Balik Lezatnya Jajanan Tradisional Tiongkok

“Dampak perubahan lingkungan eksternal semakin dalam,” ujar pejabat NBS Kang Yi dalam konferensi pers yang dikutip kantor berita Agence France-Presse. Ia juga mengakui kontradiksi lama yang belum terurai.

“Kontradiksi domestik berupa pasokan yang kuat tetapi permintaan yang lemah masih menonjol. Masih banyak masalah lama dan tantangan baru dalam pembangunan ekonomi,” katanya.

Pernyataan itu mencerminkan realitas yang dihadapi Beijing. Secara statistik, pemerintah bisa mengklaim kemenangan karena target tahunan tercapai. Namun di tingkat rumah tangga, kehati-hatian masih mendominasi perilaku konsumen. Pengangguran yang tinggi dan ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat menahan belanja.

Pemerintah telah mencoba mendorong konsumsi dengan melonggarkan kebijakan fiskal dan memberikan subsidi penggantian barang rumah tangga. Namun dampaknya terbatas. Program tersebut dinilai hanya memberi dorongan sesaat. Tidak mampu mengubah sentimen secara menyeluruh.


AKTIVITAS BONGKAR MUAT di Pelabuhan Yantaim Provinsi Shandong, 7 Januari 2026.-AFP-

Kang Yi mengatakan, kebijakan untuk mendorong konsumsi akan berlanjut hingga 2026. Termasuk skema tukar tambah peralatan rumah tangga lama. “Penerapan bertahap kebijakan untuk menghapus pembatasan yang tidak masuk akal di sektor konsumsi akan mendukung pertumbuhan konsumsi,” ujarnya.

Namun, angka-angka konsumsi berbicara lain. Penjualan ritel sepanjang 2025 hanya tumbuh 3,7 persen, melambat dibanding 2024 yang mencapai empat persen. Lebih mencemaskan lagi, pada Desember, pertumbuhan penjualan ritel hanya 0,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Itu adalah angka pertumbuhan terlemah sejak akhir 2022, ketika kebijakan nol-Covid dihentikan.

Penurunan itu mencerminkan memudarnya efek subsidi konsumen. Zichun Huang dari Capital Economics menilai angka-angka tersebut kemungkinan melebih-lebihkan kekuatan ekonomi. Menurutnya, fondasi permintaan domestik masih rapuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: